You are viewing [info]snowy_tinkle's journal

CHAPTER 2

PanDa
“BANGUUUNNNN!!!” teriak Jae Joong membangunkan teman-temannya. “Berisikkk!!!” Yunho melempar jam beker ke JaeJoong.
“Heh bangun! Kau katanya ada kencan?”
Mendengar itu Yunho langsung bangun. “O iya aku lupa. Thanks ya!” Yunho cepat-cepat mengambil handuk dan berlari ke kamar mandi.

“Yah hyung, aku duluan deh... Aku mau syuting jam 11 nanti,” keluh Changmin saat melihat Yunho masuk ke kamar mandi.
“Telat dikit nggak pa-pa deh. Kencanku lebih penting!” seru Yunho dari dalam kamar mandi. Changmin menggerutu kesal. Dia berjalan ke meja makan. JaeJoong dan Micky sudah duduk manis di situ. Jaejoong menyantap rotinya. Sedangkan Micky masih dalam keadaan setengah tertidur.

“Junsu hyung mana?”
“Masih tidur. Kemarin dia pulang jam 2 malam.”
“Oo... Hyung berdua hari ini ada jadwal ngajar?”
“Iya. O iya ya, Micky, hari ini di tempat les kita mau ada guru piano baru ya?” ujar Jaejoong ke Micky.

“Apa? Makan? Iya iya, bentar lagi aku makan kok...” jawabnya setengah sadar.
“Aigoo... Micky, sadar dong!” kesal Jae Joong. “Kemarin ngapain sih kau? Pasti buat partitur sampai malam lagi.” Micky mengangguk lemas. Dia bertopang dagu dengan mata yang setengah terpejam.

Nggak lama kemudian Yunho keluar dari kamar mandi. Changmin cepat-cepat berlari masuk ke kamar mandi.
“Jaejoong-a, aku pinjam topimu ya?”
“Untuk apa?”
“Biasa...” cengir Yunho.
“Dasar!” gerutu Jaejoong.

***
Jaejoong dan Micky sama-sama mengajar di tempat kursus Eumag. Mereka mengajar piano. Dan hari ini Jaejoong yang menyetir dikarenakan kondisi mata Micky yang lagi pejem-melek-pejem-melek gara-gara begadang.
“Kau buat partitur itu semalaman?” Tanya Jaejoong ketika mereka masuk ke dalam gedung kursus tersebut.

“Muridku ada yang mau memainkan lagu ini. Tapi dia belum mencapai grade ini. Makanya aku buatkan partitur ini,” Micky mengeluarkan partitur tersebut.
“Kerajinan kau!”

Micky cuma nyengir mendengar perkataan Jaejoong. Mereka berdua ngobrol tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Tanpa sengaja Micky menabrak wanita yang ada di depannya. Sialnya wanita tersebut sedang membawa segelas kopi. Partitur yang dibawa Micky langsung terkena tumpahan kopi tersebut.
“Aish!” gerutu Micky saat mengambil partitur yang basah itu.

“Mianheyo... Chongmal mianheyo... Aku benar-benar nggak sengaja,” maaf wanita tersebut seraya membungkuk tanda menyesal.
“Nggak pa-pa. Ini bukan salahmu,” jawab Micky datar.
“Chongmal mianheyo...” seru wanita itu lagi.
Micky cuma tersenyum datar. Ya sebenarnya dia kesel juga sih. Soalnya dia kan udah buat partitur itu susah payah.

“Kau guru baru ya di sini?” Jaejoong berusaha mencairkan suasana.
“Yah... Aku guru baru di sini. Namaku Chrysant.” Chrysant mengulurkan tangannya. “Jaejoong.” Jaejoong menjabat tangan Chrysant. Chrysant menoleh ke arah Micky yang lagi sibuk mengibas-ngibas partiturnya.
“Dia Micky.” Jaejoong akhirnya yang mengenalkan Micky.

“Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak sengaja...” Chrysant merasa tidak enak. Soalnya Micky langsung bersikap acuh padanya.
Micky sedikit menghela napas berat. “Tidak apa-apa. Ya sudah, aku duluan ya.” Micky berjalan masuk ke ruangan 3. Tampak dia mengibas-ngibas partiturnya.

“Emm... Sebenarnya dia sampai begadang mengerjakan itu,” jelas Jaejoong saat Micky sudah benar-benar masuk ke dalam ruangan 3.
“O ya? Kalau begitu aku semakin tidak enak padanya...” raut wajah Chrysant menjadi sedikit keruh.
“Kau tidak salah juga sih... Tadi kami terlalu asyik mengobrol sehingga tidak terlalu melihat jalan. Kau ada jadwal megajar?”
“Mm... Jam 1 nanti. Masih lama sih... Tapi aku deg-degan menunggu murid pertamaku ini...” Chrysant meremas-remas tangannya lalu menggigit bibir bawahnya.

“Hahaha... Aku juga waktu pertama kali mengajar juga kayak gitu. Kau sudah keliling tempat les ini belum? Mau ku temani?” tawar Jaejoong.
“Hm? Ya... Boleh sih...”
“Ya sudah. Ayo...” Jaejoong membawa Chrysant keliling tempat tersebut. Chrysant mendengar perkataan Jaejoong setengah-setengah. Pikirannya masih terbayang dengan pertemuannya dengan Micky tadi. Entah kenapa dia merasa pernah bertemu dengan Micky.

***
“Sebuket mawar putih,” ujar Hae In seraya menyerahkan bunga tersebut ke arah Yunho.
“Dan sekantong es krim untukmu!” Yunho mengambil bunga tersebut sambil menyerahkan sekantong penuh es krim ke Hae In.
“Wah... Gomawo!!” Hae In mengambil satu es krim dan memakannya. Yunho duduk di sampingnya. Hae In mengeluarkan satu es krim lagi dan memberikannya ke Yunho.

“Untuk apa? Aku kan membelikan itu untukmu. Masa aku ikutan makan?”
“Ya ini kan udah jadi hak milikku, jadi terserah aku dong mau kasih ke siapa. Udah cepetan makan, kalo nggak kau kusuruh makan bunga yang beracun itu!” Hae In pura-pura mengancam sambil menunjuk berwarna hijau pekat yang ada di pojok toko itu.

“Ampun, ampun.” Yunho pura-pura ketakutan. Dia mengambil es krim yang ditawarkan Hae In dan memakannya.
“Topi baru?” Tanya Hae In melihat topi Yunho.
Yunho melirik ke topi Jaejoong yang berwarna biru dan di tengahnya ada gambar lebah. Yunho tersenyum geli. “Kalau aku memakai topi yang bagus, nanti muka artis ku terlalu kelihatan. Makanya aku pinjam dari Jaejoong topi ini. Hadiah dari muridnya. Maklum, aku nggak punya topi lusuh gini.”

“Udah minjem, ngehina lagi!” Hae In menoyor kepala Yunho.
Yunho melihat jam tangannya. “Wah... Udah mau jam makan siang nih. Aku harus ke kantornya Seul Na!” Yunho berdiri sambil memegang buket bunganya erat. “Makasih ya bunganya. Seul Na pasti suka. O ya, jam 8 malam ini jangan lupa nonton drama ku ya!” Yunho berlari ke mobilnya lalu melambai ke arah Hae In.

Hae In membalas lambaian itu. Dia melihat perginya mobil Yunho dengan tatapan kosong. Dia menatap kantong es krimnya. “Oke Hae In, mungkin sampai kapanpun kau cuma jadi si penjual bunga penggila es krim...”

***
“Onnie mau ke mana?” Tanya Hyo Shin pada Seohyun yang sedang menyiapkan bekal.
“Ke tempat Micky,” jawabnya sambil sibuk membungkus kotak bekalnya.
“Aku ikut ya!”
Seohyun berhenti membungkus dan menatap adiknya heran. “Mau ngapain kau?”
“Ya... Aku kan sudah lama tidak bertemu dengan Micky oppa...” Hyo Shin terlihat sedikit gugup. Seohyun tampak berpikir sebentar tapi kemudian dia kembali sibuk dengan kotak bekalnya.

***
“Jaejoong-a!” panggil Seohyun saat dia dan Hyo Shin masuk ke gedung les tersebut. Jaejoong menoleh dan tersenyum lebar melihat kedatangan Seohyun.
“Tumben ke sini?”
Seohyun menunjuk kotak bekalnya. “Untukku?” Jaejoong terlihat sedikit kaget.
“Hehe... Aku lupa membuatkannya buat oppa. Yang ini untuk Micky oppa.”

Wajah Jae Joong sedikit sedih mendengar hal tersebut. Hyo Shin menangkap perubahan raut wajah Jaejoong.
“Lalu Micky lagi mengajar di mana?”
“Di ruang 20 lantai 2.”
“O... Makasih ya!”
Jaejoong melihat kepergian Seohyun dengan kecewa.

“Hai oppa,” sapa Hyo Shin.
“Eh?” Jaejoong kaget,”Kau juga ikut?”
Hyo Shin tersenyum getir. Jaejoong sering mengacuhkan dia kalau ada Seohyun. Yup, Hyo Shin menyukai Jaejoong dari sejak pertama kali Micky memperkenalkannya kepada mereka. Tapi sayangnya Jaejoong lebih menyukai Seohyun.

“Mau cokelat?” Hyo Shin menawarkan cokelat kepada Jaejoong. Jaejoong menerimanya sambil tersenyum geli. “Ini sudah cokelat ke-98 yang kau beri padaku. “
“Karena aku tau oppa suka cokelat,” jawab Hyo Shin.
“Kita ngobrol di taman aja yuk. Aku jadwalnya masih jam 3 nanti.” Jaejoong dan Hyo Shin pergi menuju taman.

Tok!Tok! Pintu ruangan 20 diketuk pelan.
“Masuk saja,” suruh Micky. Chrysant masuk sambil membawa bungkusan McD. “Kata Jaejoong kau menyukai fast food.” Dia berjalan mendekat ke arah Micky.
“Nih,” sodornya.
“Sogokan?”
“Ya bukanlah! Sogokan untuk apa coba? Ini permintaan maafku.”

Micky tersenyum geli. “Padahal aku sudah memaafkanmu. Ya... walaupun aku masih sedikit kesal sih. Tapi... permintaan maafmu diterima deh. Maklum, lagi laper!” Micky mengambil bungkusan tersebut. Membukanya lalu memakan makanannya dengan lahap. Chrysant tertawa melihat itu. Dia kira cowok sok cool yang tadi nyuekin dia ini bakalan nolak makanannya. Eh... ternyata malah rakus gitu makannya.
Chrysant duduk tepat di samping Micky. “Lahap amat. Fast food itu nggak bagus loh buat kesehatan,” ujar Chrysant melihat Micky rakus begitu memakannya.
“Yang penting enak. Lagian aku kan nggak makan tiap hari bu dokter!” canda Micky di sela makannya. “Tapi thanks ya! Sering-sering aja kayak gini. Jadi gajiku bisa dihematin.”

“You wish!” Chrysant pura-pura kesal. Dia nggak menyangka bisa merasa nyaman duduk di samping orang yang baru beberapa jam ini dia kenal. Chrysant manatap Micky. “Aish, sausnya belepotan tuh!”
“Hm?” Micky malah bingung.
“Hh... Kayak anak TK banget sih!” Chrysant mengambil tisu dari sakunya dan mengelap saus di bibir Micky.
Tepat saat itu Seohyun masuk. “Oppa?”

==============================================================================================


Sorry for update lately..
Hope u'll enjoy this chapter..
comments are worth.. ^_^

MIRROR CANON

PanDa

 

MIRROR CANON

“Hyung, aku pulang duluan ya...” Junsu menepuk pelan bahu Yunho lalu berjalan meninggalkannya sendirian. Jaejoong, Yoochun, dan Changmin mengikutinya seraya memberikan senyum kecil ke Yunho.

Yunho hanya membalas senyuman mereka dengan anggukan kecil. Pandangannya yang kosong tertuju ke arah langit hari itu. Ingatannya berputar ke seminggu yang lalu...


 

“Lelahnya...” keluh Jaejoong saat mereka selesai pemotretan. Dia merebahkan badannya di atas sofa. “Changmin-a, minta keripikmu dong...” Jaejoong menatap Changmin-lebih tepatnya keripik Changmin-dengan pandangan berbinar.

“Nggak mau,” tolak Changmin langsung. Kata “minta” jika diucapkan Jaejoong berarti itu artinya “menghabiskan semua”.

“Pelit!” ambek Jaejoong.

“Emang!” Changmin memakan keripiknya. Di saat dia lengah Jaejoong langsung merebut bungkus keripik tersebut.

“Hyuuuunnnngggg!!!” Changmin meneriaki Jaejoong yang tanpa rasa berdosa memakan chips milik Changmin.

 

Jaejoong malah menjulur lidah mendengar teriakan Changmin. Junsu dan Yoochun yang melihat hal tersebut jadi tertarik unutk ikut menjahili Changmin. Mereka bertiga mengoper-oper makanan Changmin tersebut sambil tertawa-tawa jahil.

“Hyung, bantu aku dong!” adu Changmin ke Yunho.

“Omo, cuma masalah keripik juga,” jawab Yunho datar. Kemudian dia keluar dari ruangan tersebut.

“Yunho hyung kenapa?” ujar Yoochun yang mewakili pikiran 3 orang lainnya.

“Stres kali karena 3 hari lagi umurnya mau nambah,” celetuk Changmin melupakan rengekannya tentang insiden perampasan makanannya.

“Ngapain stress? Yang umurnya udah nambah juga nggak stress,” sahut Junsu.

 

Siapa?” Yoochun bingung. Tapi kemudian mereka bertiga serentak melihat ke arah Jaejoong.

“Hei hei, kenapa kalian semua menatapku seperti itu?”

“Nggak apa-apa deh kalian mengambil semua keripikku. Mungkin kalian iri dengan kemudaanku,” ucap Changmin yang langsung disambut jitakan oleh ketiga hyungnya itu.


 

***

Hari ini Dong Bang Shin Ki mengadakan pemotretan di sebuah pulau kecil yang terdengar asing di kuping kelima pria tersebut. Yaitu pulau Seoyunrang.

“Apa karena aku memang suka membolos saat pelajaran geografi sehingga aku tidak mengetahui pulau ini? Atau memang Pulau Seoyunrang ini pulau baru?” komentar Junsu saat manager mereka memberitahukan bahwa mereka akan mengadakan pemotretan di sana. “Enggak kok Junsu-ya. Tenang saja...”Yoochun menepuk pelan bahu Junsu. “Maksudku kamu enngak sendiri membolos. Aku dulu juga suka bolos geografi kok,” cengir Yoochun.

 

Dan sekarang Yunho sedang berjalan-jalan mencoba mengelilingi pulau yang kecil ini. Tapi meskipun kecil pulai ini mempunyai alam yang lumayan indah. Sepanjang jalan yang dilaluinya Yunho selalu melihat bunga-bunga indah menghiasi pinggiran jalan tersebut. Yunho berhenti di dekat pohon maple yang berada di pinggir danau kecil yang ditemukannya secara tidak sengaja. Yunho duduk di bawah pohon tersebut. Dia memejamkan kedua matanya. Entah kenapa akhir-akhir ini moodnya buruk. Seperti tadi siang, biasanya dia sangat semangat untuk ikut menjahili Changmin. Tapi tadi dia sama sekali tidak tertarik untuk ikut menjahilinya.

“Aarghhh!!!!” teriak Yunho tiba-tiba.

“Ya, oppa tidak apa-apa kan?” Tanya seseorang seraya menepuk pelan tangan Yunho. Yunho membuka matanya. Seorang gadis berambut pendek sebahu sedang menatapnya dengan khawatir. “Oppa tidak apa-apa kan?” ulang gadis itu lagi.

Yunho agak kaget dengan kedatangan gadis tersebut. Tapi kemudian dia menggeleng.

 

“Syukurlah. Aku tadi sangat kaget mendengar oppa tiba-tiba berteriak.” Gadis itu mengelus dada yang menandakan dia tenang.

“Maaf sudah membuatmu kaget,” Yunho berkata pelan.

“Keucanayo Oppa... Umm... Perkenalkan, jeonenun Seo Yool imnida.” Seo Yool mengulurkan tangannya seraya tersenyum hangat ke arah Yunho.

Yunho membalas uluran tangan tersebut. Baru saja dia ingin menyebutkan namanya, tetapi Seo Yool sudah keburu memotongnya. “Jung Yunho-ieyo?”

 

“Kau mengenalku?”

“Tentu saja! Siapa sih yang tidak mengenal Dong Bang Shin Ki? Leadernya apalagi!”

Yunho tersenyum mendengar jawaban Seo Yool. Mata bulat Seo Yool berbinar saat mengatakan hal itu. Entah kenapa perasaan kesal Yunho menghilang karena melihat hal itu.


 

Seo Yool lalu duduk di samping Yunho. Dia bersedekap seraya menatap ke arah Yunho. “Sedang apa Oppa di sini?” tanyanya dengan tatapan polos yang membuat Yunho gemas melihatnya.

“Kami sedang melakukan pemotretan di sini...”

“Benarkah? Berarti empat anggota yang lain juga ada di sini dong?” Seo Yool terdengar sangat bersemangat.

“Yap!”

“Wah... Senangnya...”


 

“Kenapa? Kau mau bertemu dengan mereka?”

“Tentu saja!” jawab Seo Yool cepat. “Tapi... aku belum siap bertemu dengan mereka.”

“Ge-er! Memangnya aku mau mengajakmu bertemu dengan mereka?” Yunho menaikkan sebelah alisnya.

Seo Yool menggaruk-garuk kepalanya. Dia malu karena terlalu menunjukkan dia bersemangat.

“Bercanda deh... Tenang saja, aku pasti mengenalkanmu kepada yang lain kok...” Yunho mengacak-acak rambut Seo Yool. Wajah Seo Yool bersemu merah saat Yunho melakukan hal tersebut.


 

“Emm... lalu oppa sedang apa di sini sendirian? Yang lain kemana?” Seo Yool berusaha mengalihkan perhatian Yunho supaya dia tidak melihat perubahan wajah Seo Yool.

“Aku hanya sedang ingin menyendiri saja.”

“O... apa tugas seorang leader itu sangat berat sampai harus menyendiri seperti ini?”

“Sok tau!” Yunho mengulum senyum.

“Hm... Ya sudah deh, aku pergi dulu ya oppa. Aku tidak ingin mengganggu kegiatan menyendiri oppa.” Seo Yool berdiri dari duduknya. Ketika dia ingin berbalik pergi Yunho menahan tangannya.

 

“Kau mau ke mana?”

“Hah? Aku... aku ingin pergi makan siang.”

“Aku boleh ikut?”

Seo Yool kaget mendengar pertanyaan Yunho. Tapi kemudian dia mengangguk. Dia dan Yunho berjalan menyusuri jalan setapak menuju kedai kimbab langganan Seo Yool.


 

“Kau asli penduduk sini?” Tanya Yunho kepada Seo Yool yang sedang melompat-lompat kecil seperti anak kecil, melewati pijakan-pijakan batu di jalan tersebut.

Seo Yool berhenti melompat. “Aku lahir di Seoul. Tapi waktu umurku 3 tahun Omoni membawaku ke sini.”

“Memangnya orangtuamu ke mana?”

“Orangtuaku meninggal saat aku berumur 1 tahun. Sejak saat itu omoni yang mengurusku. Tapi karena biaya hidup di sana mahal omoni membawaku pindah ke sini,” cerita Seo Yool.

 

“Kau tidak sedih?” Yunho bertanya pelan dan hati-hati. Takut-takutnya Seo Yool tersinggung mendengarnya.

Seo Yool menggeleng. “Awalnya sih aku memang sedih mengingat orangtuaku. Tapi lama-kelamaan aku mulai bisa menerimanya. Lagipula omoni sangat menyayangiku. Jadinya aku tidak sedih lagi!” senyum Seo Yool.


 

Yunho memperhatikan Seo Yool yang berlari ke dekat batu besar di pinggir jalan tersebut. Dia mengambil setangkai Dandellion. “Oppa, bagus tidak?” serunya sambil memberikan bunga tersebut kepada Yunho.

Yunho mengambil bunga tersebut dan mengamatinya dengan wajah serius. “Em... aku rasa bunga ini lebih bagus dan indah jika diletakkan di sini.” Yunho menyelipkan bunga itu di rambut Seo Yool. “Tuh kan... cantik sekali!” puji Yunho.

Seo Yool menatap Yunho malu. Dia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.

“Bunganya maksudku,” jahil Yunho. Seo Yool cemberut mendengar perkataan Yunho tersebut. Yunho tertawa geli.


 

“Seo Yool-a!” panggil seorang wanita separuh baya yang sedang memanggul sayuran di punggungnya dari seberang jalan kemudian menghampiri mereka berdua.

Seo Yool tersenyum lalu melambai ke arah wanita tersebut. “Baru pulang ahjumma?”

Wanita tersebut mengangguk. “Kau mau ke mana?”

“Biasa... Makan gratis di tempat Young Ri-ssi.”

Wanita itu tersenyum. “Lusa nanti jadi ya? Kau yang semangat ya!!”

“Sip!!” Seo Yool mengacungkan jempol seraya mengedipkan matanya.


 

“Memang lusa besok mau ada apa?” Yunho menanyakan hal tersebut setelah Ahjuma yang tadi pergi meninggalkan mereka berdua.

“Ada aja!” Seo Yool menjawab sekenanya.

Sesampainya di kedai Yunho heran mendengar Young Ri-ssi yang menyemangati Seo Yool untuk lusa. Memangnya ada apa sih lusa nanti?

“Ya oppa, kenapa diam saja?” Seo Yool heran melihat Yunho yang dari tadi tidak berbicara sepatah katapun sejak mereka keluar dari kedai,

“Memangnya ada apa sih lusa nanti?”


 

Seo Yool diam sejenak. Tapi detik berikutnya tawanya meledak. “Ya ampunnn... Jadi dari tadi oppa memikirkan hal itu?” mata Seo Yool yang bulat membelalak lebar.

“Ya sudah, nanti aku kasih tau deh...” ujar Seo Yool akhirnya. Tidak tega juga dia melihat Yunho penasaran sampai segitunya.

Wajah Yunho langsung berubah cerah. Seo Yool geli melihatnya.


 

“Sampai deh!” seru Seo Yool. Dia dan Yunho berhenti di depan rumah sederhana yang dikelilingi banyak bunga. Hamparan bunga menghiasi tiap sudut halaman rumah tersebut. “Ini rumahku. Kecil sih... Tapi indah kan?” bangga Seo Yool.

Yunho hanya mengendikkan bahu. Tapi sebenarnya dia mengagumi rumah tersebut. Seo Yool masuk ke dalam rumahnya lalu keluar seraya membwa kardus kecil. “Omoni lagi pergi. Mungkin ke tempat Seung Yoon-ssi...”

“Apa itu?” tunjuk Yunho ke arah kardus yang dipegang Seo Yool.


 

“Ini?” Seo Yool mengangkat kardus tersebut. “Rahasia! Ntar ooppa pasti aku kasih tau. Tapi kalau kita sampai di tempat selanjutnya.”

“Memangnya kita mau ke mana?”

“Ada deh...” Lagi-lagi Seo Yool mebuat Yunho penasaran. Seo Yool berlari pelan menjauhi Yunho. “Ayo oppa, bisa kejar aku tidak?” serunya seraya berbalik menghadap Yunho.

“Tentu saja!” Yunho berlari mengejar Seo Yool. Melihat hal itu Seo Yool mempercepat larinya. Tapi tiba-tiba dia berhenti dari larinya dan membungkuk seraya menahan beban tubuhnya dengan memegang kedua lututnya.


 

Yunho ingin membantunya tetapi seorang pria tua sudah duluan berlari ke arah Seo Yool.

“Seo Yool-a, kau tidak apa-apa kan?” pria tersebut memegang pelan kedua bahu Seo Yool. Kemudian dia menoleh ke arah Yunho. “Kau, apa yang kau lakukan padanya? Kau kan tahu kalau dia tidak bisa lelah. Apalagi berlari seperti tadi. Sambil membawa kardus lagi! Kau ini pria atau bukan sih?” cecar pria tersebut.

“A-aku...” Yunho bingung mau menjawab apa.

“Sudah adjeossi, jangan menyalahkan oppa... Dia itu tidak tahu soal hal itu,” jawab Seo Yool. Suaranya terdengar berat dan sesak.

“Ck! Kau juga, kenapa nekat berlari seperti tadi?” Adjeossi itu terlihat kesal sekaligus cemas.


 

“Hanya persiapan untuk lusa.” Senyum Seo Yool kembali muncul. “Sudah dulu ya adjeossi. Aku mau jalan-jalan lagi. Dah...!” Seo Yool mengambil kardusnya lalu menarik tangan Yunho pergi dari situ.

“Hei anak muda, jaga Seo Yool!” teriak pria tua tadi kepada Yunho yang sedang ditarik Seo Yool untuk menjauh.

“Seo Yool-a, kau tidak apa-apa kan?” Yunho bertanya khawatir. Wajah Seo Yool terlihat pucat. Ditambah lagi adjeossi tadi berpesan kepada Yunho untuk menjaga Seo Yool. Yunho jadi cemas.

“Aku baik-baik saja Oppa... Tenang saja. Ayo, kita sudah hampir sampai nih!” Seo Yool melangkah riang. Dia dan Yunho menuju ke gereja kecil yang berada di pulau itu. Gereja tersebut tampak lengang. Seo Yool berjalan ke arah kursi yang berada di deretan paling depan. Yunho hanya mengikutinya dari belakang.


 

Seo Yool melipat kedua tangannya dan berdoa. Yunho memperhatikan wajah Seo Yool yang sedang berdoa. Terlihat polos dan ada kedamaian yang terpancar.

Seo Yool selesai berdoa dan mulai mengeluarkan isi dari kardus kecil yang dibawanya. Lipatan-lipatan kertas yang jumlahnya mungkin ratusan.

Yunho menghampirinya. “Apa ini?” dia membolak-balik kertas yang sudah dibentuk menyerupai bunga tulip tersebut.

“Ini namanya wishing flower.Kalau bisa mencapai seribu permohonan kita akan terkabul,” jawab Seo Yool seraya melipat beberapa kertas lagi.

 

“Memangnya kau mau minta apa?”

“Aku minta supaya lusa nanti aku berhasil!”

Yunho menepuk jidatnya. “Oh iya, kau belum memberitahu ada apa lusa nanti.”

“Hehe... Oppa inget aja,” cengir Seo Yool. Dia menghentikan kegiatan melipatnya lalu menatap Yunho. “Lusa itu... aku mau operasi...”

“Mwo? Operasi?” Yunho terbelalak kaget.

“Iya. Dari kecil jantungku lemah. Harusnya aku sudah dioperasi, tapi omoni belum mempunyai uang untuk operasiku.”

“Aku akan membiayainya,” sahut Yunho cepat.

Seo Yool tersenyum mendengar perkataan Yunho. “Terima kasih oppa sudah mau membantuku. Tapi tenang saja oppa, kan aku sudah bilang lusa aku mau dioperasi... Itu semua berkat bantuan penduduk pulau ini. Aku tidak menyangka mereka rela menyisihkan uang mereka untuk membantu uang operasiku...”

 

“Wah... pasti penduduk di sini sangat menyayangimu ya sampai rela seperti itu.”

Seo Yool tersenyum. “Tentu. Anak cantik begini!”

“Nyesel deh udah muji...” Yunho menjitak pelan Seo Yool.

Seo Yool memandang ke arah altar gereja tersebut. Wajahnya tiba-tiba berubah sendu. “Aku dari kecil sudah tau kalau aku mempunyai jantung yang lemah. Aku hanya punya sedikit teman karena aku jarang keluar rumah. Tapi lama-kelamaan aku sadar, aku tidak boleh terus lemah seperti ini. Aku harus kuat. Sejak saat itu aku mulai berbaur dengan penduduk yang lain. Membantu mereka. Bersahabat dengan mereka. Aku ingin melihat kebahagiaan terpancar pada setiap orang yang berada di sini. Setidaknya... aku ingin ada kenangan indah tentangku di sini...” mata Seo Yool nanar saat menceritakan itu.

 

Yunho ingin sekali mendekap tubuh mungil Seo Yool ke pelukannya. Membiarkannya melepas semua kesedihannya di pelukannya. Yunho tidak menyangka gadis mungil di hadapannya ini mempunyai masalah seberat itu.Tapi Yunho mengurungkan niatnya tersebut. Dia memilih untuk membelai pelan dan lembut rambut Seo Yool.

Seo Yool menoleh kaget ke arah Yunho. Yunho menghapus sedikit air mata yang membahasi wajah Seo Yool. “Sudah... Jangan sedih lagi... Lebih baik kita sekarang melanjutkan membuat bunga ini bersama.”

“Memang oppa bisa?” Tanya Seo Yool dengan suara parau. Dia sudah dapat mengontrol dirinya lagi.

“Ya kau ajarkan dong...”

“Hehehe... Iya deh iya...” Seo Yool memberikan selembar kertas dan mulai mengajari Yunho.

 

“Seo Yeol-a, kau bisa datang tidak di hari ulang tahunku nanti?” Tanya Yunho di sela-sela kegiatan melipatnya.

“Kapan?”

“Tanggal 6 nanti.”

“Wah... berarti sehari setelah aku operasi dong. Hm... kalau begitu kita harus ngebut nih ngerjain bunganya. Supaya permintaanku bisa cepat-cepat dikabulkan.”

“Sip! Tapi kau datang ya!”

“Iya...”


 

***

Yunho tersenyum mengingat kejadian-kejadian itu. Dia lalu mengeluarkan handphone dari sakunya dan membaca ulang SMS Seo Yool tanggal 5 Februari lalu.

 

Oppa, ini sms pertamaku ya? Hehe... Aku meminjam ponsel omoni diam-diam nih... Oppa, sore nanti aku akan dioperasi. Doakan aku supaya berhasil ya! Jadinya aku bisa datang ke ulang tahun oppa. Oke? Hwaiting!!


 

Yunho memasukkan kembali ponselnya. Dia melihat makam Seo Yool nanar.“Seo Yool-a, kau bohong ya... Kau sama sekali tak datang di ulang tahunku...” ujar Yunho pelan di makam yang ada di depannya.

Operasi Seo Yool yang memang sudah dikatakan bahwa persentasi berhasilnya hanya 10% gagal. Yunho baru mengetahuinya sehari setelah ulang tahunnya. Seo Yool memang sudah mengetahui bahwa kemungkinan berhasil operasinya sangat kecil. Tapi dia tidak takut menjalaninya. Baginya 10% itu masih berarti dia mempunyai harapan. Meskipun pada akhirnya dia ‘pergi’ juga...


 

Yunho menunduk ke kardus yang sedang dipegangnya. “Seo Yool-a, ternyata bunganya belum mencapai seribu. Kita salah menghitungnya waktu itu. Aku ingin membuat yang ke-1000, tapi kau tau kan kalau buatanku itu jelek...” suara Yunho terdengar serak. Air mata mulai menggenangi matanya. Tiba-tiba Yunho melihat ada setangkai Dandellion di samping makam Seo Yool.

Yunho memetik bunga tersebut. “Kau tau ya kalau jumlah bunga ini memang belum seribu. Makanya kau menyiapkan bunga ini.” Yunho menatap Dandellion tersebut dan meniupnya sehingga serbuk bunganya berterbangan dibawa angin.


 

“Itu bunga ke seribu untuk melengkapi permintaanmu melihat kebahagiaan di pulau ini. Mereka berterbangan membawa kebahagiaan yang kau berikan...” Yunho meletakkan satu bunga tulip kertas di atas makam Seo Yool.

“Terima kasih sudah mengajariku tentang arti hidup yang sebenarnya. Saranghaeyo...”

Tepat saat Yunho mengatakan hal itu dia merasakan ada angin lembut membelai pelan tangannya. Yunho tersenyum dan berbalik pergi.

Kau benar Seo Yool, setiap sudut pulau ini mempunyai kenangan tentang dirimu. Permintaanmu dari bunga ke seribu berhasil. Kenangan akan dirimu tidak akan menghilang begitu saja... Itu tetap aka nada di setiap ingatan orang-orang yang telah kau berikan senyum indahmu dan kebaikanmu... Saranghamnida...

-THE END-




Jiah... ini udah lumayan lama, waktu Uno oppa ultah...
Jadi deh buat postan baru.. Hehe...

Tags:

BONTEA

PanDa
iklan BONTEA
Di suatu siang yang panas..

Seohyun duduk di dalam mobilnya sambil menggerutu. Udah kejebak macet,yang <input ... >ada di depannya malah delman yang super lambat.
Soalnya yang bawa super gede,yaitu kangin dari super junior yang super dodol dan yang super2 aneh lainnya dah..

Tiba-tiba <input ... >ada yang mengklakson,ralat,menerompet mobil Seohyun.Yaitu Heechul yang lagi ngendarain sepeda ontelnya.

Heechul:Heh mbak,cepetan dong! Kita mau dangdutan neh! Sabar yah baby *noleh ke lina yang lagi ngorek2 gigi*
Seohyun:Heh,nggak liat di depan <input ... >ada kendaraan antik ngejogrok? Sabar donk.Urus dulu sana gigi cewekmu.
Heechul:*noleh ke lina* ih, baby kok kamu jadi jorok gitu sih?
Lina:Ya tadi semur jengkolnya ma'jos gila.<input ... >Aku kan makannya jadi napsu.Sampe nyangkut gini deh..
Heechul:Gapapa kog sayang.. *ngusep pipi lina ala ibu2 ngusep pantat bayi*
Seohyun:Dunia ini memang sudah sarap.. *geleng2 kepala*
Tiba2 <input ... >ada 2 cowok nyamperin Seohyun. Tampang2nya sih pengamen. Hero yang bawa gitar sambil nyanyi,Micky cuma bagian megang krecekan.
Seohyun:Maap maap,nggak nerima pengamen
Hero:Eits,jangan sotoy gitu dong. Kita nggak mau ngamen lagi. Kita <input ... >nih lagi mengaplikasikan apa yang sudah diajarkan guru les vokal kita *ngeles* Bukan begitu *noleh ke micky*
Micky:Apanya?
Hero:*elus2 dada*
Seohyun:Ogah ah,lagi mumet.Nggak nerima suara jelek
Hero:Yee,menghina dia.Coba kasih tau si suara merdu nan imut di DeBe! *colek2 micky*
Micky:DeBe? Apaan tuh? BeBe kali. Kalo itu mah <input ... >aku tau. Bau badan kan?
Hero:Apa? Gag tau?! Aarghh!! *stress sendiri*
Seohyun:Ah udah ah,lampu ijo tuh! *siap2 ngegas mobil*
tiba2 Hero kejang2 sendiri
Micky:Eh eh,kau kenapa? Wah,mbak harus tanggung jawab.
Seohyun:heh,kok <input ... >aku? Kapan <input ... >aku ngamilin dia? Ogah ah nikah sama dia!
Micky:Mbak kan tadi nggak ngizinin dia nyanyi.Makanya dia stress.Dia kalo stress ayannya kambuh tuh! Lagian kalo soal nikah.. <input ... >Aku mau dong.. *nunjuk diri sendiri sambil kedap-kedip*
Seohyun:Yee.. Dia kan stress gara2 elo. Eh mungkin dia stress karena nyium badanmu kali..
Nggak dinyana nggak disangka Yuri tiba-tiba muncul.
Yuri:Bau badan? Mungkin itu disebabkan oleh bau ketiak anda yang naujubileh.Makanya,pake rexone,<input ... >ada yang model sachet lebih praktis! *ala MJ*
TET!TET!TET!TERETETET! Heechul membunyikan terompet ontelnya.
Heechul:Heh,buta warna ya?Lampunya udah ijo tuh!
Lina:Iya,makeup <input ... >aku dah luntur <input ... >nih..
Heechul:*bunyi2in terompetnya lagi*
Lina:*nampung makeup yang luntur*
Hero:*masih kejang2*
Micky:*ribut nampar2 hero biar sadar*
Yuri:*lari ke tempat Eeteuk* kerempeng mana keren? <input ... >Nih appeton weight gain untuk menambah berat badan anda.
Eeteuk:buta lo? Badan ade rai gini dibilang kerempeng!
Yuri:Ade rai dari hongkong! Minum aja tuh.Biar ga terbang ketiup angin terus kesangkut di jemuran.Ntar jadi iklan detergen lagi!
Seohyun:Dunia ini makin gilaaa!! *ngambil permen bontea*

Langsung ganti scene ke perkebunan teh.Seohyun sibuk melayang2 pake selendang biru.Matanya pejem-melek geje karena keasyikan ngemut permen yang ngasih sensasi ajeb2.Tiba2 selendangnya nyangkut ke rambut Yesung yang lagi metik teh.

Yesung:ADOOHHH *megang rambutnya* woi nyadar lo,berasa harry potter lo pake terbang2 gitu? Nyangkut neh!

Seohyun turun dari acara terbangnya.

Seohyun:Elo aja tuh yang kegedean jambul! Makanya selendangnya nyangkut!

Tiba2 heechul datang melerai.
Heechul:STOP! Marah2 dapat menyebabkan hipertensi,mata belok,keriput,gangguan otak dan jiwa.
Seohyun:Lho,situ bukannya mau dangdutan?
Heechul:O iya bentar2.Baca scenequ dulu *buka2 script*  Makanya,makan bontea.Jangan setengah2.Bontea,segernya green tea asli! TRING! *kedap-kedip sendiri*
Yesung dan Seohyun:??

Tags:

Cinder (Gag) ReLLa story

PanDa

CINDER (GAG) RELLA STORY



   Di suatu negeri yang bernama Uadaja, hidup seorang gadis bernama Taeyeon. Dia tinggal bersama ibu jadi-jadiannya dan kedua saudara tirinya. Dan <input ... >di suatu pagi yang nggak cerah-cerah amat Taeyeon sedang mencuci baju <input ... >di belakang rumah.
   “Oh papa, oh papa, mengapa tak pulang-pulang... Anakmu, anakmu,panggil-panggil namamu... Tiga kali imlekan, dua kali kemarau, papa tak pulang-pulang, sewesel uang tak adaaa...”nyanyi Taeyeon.
   
   Tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam rumahnya. “Taeyeon-aa...!! Taeyeon!!” Heeechul sang ibu tiri mulai kumat teriak ala Tarzan.
   “Apa?” balas Taeyeon teriak.
   “Heh, malah bales teriak! Cepetan sini!!”
   “Iya bentarrr!!” cepat-cepat Taeyeon menyelesaikan cuciannya. Untung sekarang ada Tomol sekali bilas. Jadinya dia nggak harus capek-capek ngebilas 17 kali deh... *promosi nggak penting*

   “Ada apa sih Om...ma?” Ada jeda sedikit antara Om dan Ma. Taeyeon kadang masih sering keceplosan manggil Om ke Heechul. Dia heran, kenapa sih Siwon, papanya, bisa milih ‘Om...Ma’ ini jadi eommanya?
   “Ini kok kulkasnya kosong?”
   “Itu artinya nggak ada isinya. Makanya namanya kosong,” jawab Taeyeon santai.
   “Bukan itu. Tapi kenapa bisa nggak ada makanan di kulkas kita?”
   “Ya karena belum dibeli Om... ma”
   “Kalo gitu sekarang kamu ke pasar buat beli bahan makanan. Memangnya kamu mau nyuruh kita makan kursi sampe bahan makanan kosong gitu,” omel Heechul.

   “Loh, Om... ma nggak tau ya, sekarang bukan cuma rayap aja yang demen makanin kursi, tapi manusia juga.” Taeyeon memasang tampang serius bin sok tau.
   “O ya? Kata siapa tuh?” Heechul rada percaya.
   “Ya kata akulah. Jelas-jelas yang ngomong tadi aku.”
   Taeyeon langsung buru-buru lari sebelum Heechul menampolnya pake sandal. Taeyeon pergi ke pasar langganannya. Yaitu pasar milik Zhou Mi.
   
   “Ko, harga wortel ini berapa?” Tanya Taeyeon seraya memperhatikan wortel tersebut dengan seksama.
   “Goceng.”
   “Mahal!” Taeyeon meletakkan kembali wortel tersebut.
   “Kalo kentang?”
   “Seceng.”
   “Kalo brokolinya?”
   “Gopek.”
   “Kalo ketumbarnya?”
   “Cepek.”
   
   “Koko kok jawabnya pendek-pendek amat sih. Emang kenapa kalo aku yang belanja?”
   “Capek. Nanya segitu banyak palingan belinya cuma dikit trus yang paling murah,” cibir Zhou Mi.
   Taeyeon nyengir kuda. “Koko tau aja. Ya udah deh, kali ini aku belinya banyak. Aku mau beli... daun bawang.”
   “Hh, lagu lama kaset baru. Dari zaman hari cuma ada hari Senen sampe ada hari ibu belinya emang cuma daun bawang!”
   “Eit, jangan salah Ko. Aku belinya sekarang banyak. Biasanya aku beli berapa coba?” Taeyeon tebak-tebakan.

   “Seiket yang isinya udah dikurangin setengah,” jawab Zhou Mi malas-malasan.
   “Nah tau nggak Ko, sekarang aku nggak mau beli seiket yang isinya dikurangi setengah, tapi yang dikurangi tiga perempat!!” bangga Taeyeon.
   “Tiga perempat suara lo bagus! Eh salah, pale lo maksudnya.” Zhoumi buru-buru meralat. Mau ngamuk kok malah muji. “Itu apanya yang banyak?”
   “Ya lebih banyaklah, lebih banyak dikuranginnya. Hehe...” Taeyeon cengengesan.
   Zhoumi membungkus daun bawang tersebut sambil menggerutu dalam bahasa Jepang seperti dasar Takada Uwang, Rukira Kitajual murah, Udakikir Kere, de-el-el.
   “Keluarga mu vegetarian atau kambing sih? Makan kok cuma daun bawang doang?”
   “Sebenarnya karnivora. Tapi karena global resesi jadinya beralih jadi vegetarian yang nyerempet-nyerempet jadi kambing.”
   Zhoumi geleng-geleng kepala. Ini saya yang aneh atau keluarganya yang aneh? Pikirnya
   

   “Berapa Ko?” Taeyeon sibuk mengeluarkan dompet.
   “Tiga puluh.”
   “Wah... mahal amat. Dua puluh deh.” Taeyeon berusaha menawar.
   “Kamu liat nggak tiang jemuran itu tukang daging? Biasanya kalo yang nawar udah keterlaluan langsung aku gantung di situ. Itung-itung gantiin daging sapi...”

   “Eh iya ampunn...” Taeyeon langsung bayar dan cepet-cepet kabur dari situ. Di perjalanan pulang Taeyeon mampir sebentar ke Mading negeri itu. Di pojok pengumuman ada berita tentang pesta dansa yang mau diadakan Raja negeri tersebut, yaitu Raja Donghae untuk mencari calon istri buat anaknya, Pangeran Junsu.
   “Besok jam 8 malem. Wah... Aku bisa dateng nggak ya?”
***
   “Eommaaa!!” teriak Cintiff ke Heechul. Yuder ngekorin dari belakang.
   “Aduh aduh, anak-anakku yang nggak bisa secantik diriku, ada apa sih?” Tanya Heechul sambil mengipasi dirinya dengan kipas warna Oren.
   “Ih, eomma pede banget sih. Jelas-jelas kita lebih cantik, lebih mulus, lebih lembut, lebih mahal hati, dan lebih lebay dari eomma. Lagian kita lebih original dari eomma. Kita kan cewek asli!” protes Yuder.
   “Hush, yang terakhir jangan disebut. Eomma ini cewek tulen tauk!” Heecul nggak terima dibilang nggak original sama anak sendiri.

   “Iya iya percaya!” jawab Cintiff sama Yuder sambil crossing hand dari belakang.
   “Eomma kok kipasnya Oren? Biasanya juga pink.”
   Heechul melirik kipasnya. “Oh ini, ya... eomma baru nyadar aja kalo warna oren itu keren.”
   “Kok bisa?”
   “Ya iyalah, oren kan singkatan dari Orang keRen. Jadi yang make pasti orang-orang keren. Hohoho...” garing Heechul. Cintiff sama Yuder ngangguk-ngangguk aja. “Terus ngapain tadi teriak-teriak manggil eomma?”
   
   “Ini lho eomma.” Cintiff menyerahkan selebaran ke Heechul. Heechul membawa selebaran tersebut dengan serius sampe-sampe matanya nyureng terus alisnya berkedut.
   “Gimana eomma? Kaget kan?” Cintiff minta pendapat.
   “Em maap. Eomma lupa pake kacamata nih. Jadinya sama sekali nggak kebaca tulisannya.”
   “Ampun deh eomma... Yuder, bacain gih!” suruh Cintiff.
   “Yee... kamu tau kan kalo aku buta urup?”
   “Yaolo...” Cintiff stress sendiri. “Sini deh aku bacain!” Cintiff mengambil selebaran tersebut dari tangan Heechul. “So... This pamphlet said...”

   “Hehh... nggak usah pake bahasa Inggris. Udah tau kita cuma tau Yes-No sama okey?” cerocos Heechul.
   “Hh... Iya iya! Pokoknya kesimpulannya besok jam 8 malem istana mau ngadain pesta dansa buat nyari istri untuk Pangeran Junsu.”
   “Apa? Kya, Kyaa!!” Heechul langsung lompat-lompat girang.
   “Yee... Eomma nyadar dong. Itu kan cuma buat yang masih muda doang. Umur eomma tuh berapaaa???” cela Yuder.
   “Eh, eomma nih masih 18 tahun tauk!” Heechul melotot ke Yuder. “Tapi 30 tahun yang lalu sih...,” sambungnya pelan.

   “Wakakak... Makanya nyadar dong eomma. Yuk ah Yuder, kita luluran dulu buat persiapan besok. Dah eomma...” Cintiff sama Yuder ngacir ke kamar mereka.
   “Itut...” manja Heechul lalu ngikutin mereka ke kamar.
   Taeyeon mendengar percakapan mereka dari depan pintu masuk. Hmm... bisa nggak ya aku ikut ke pesta dansa itu? Pikirnya bingung.
***
   Keesokan harinya...
   Udah jam 7 malam. Heechul, Cintiff, dan Yuder udah stand-by di depan pintu rumah buat nungguin gerobak Gajah yang akan nganterin mereka ke istana.
   “Hohoho... Kasian deh kamu Taeyeon nggak bisa ke pesta dansa!” ejek Yuder ngeliat Taeyeon yang lagi nyapu rumah.
   “Ntar kita bawain oleh-oleh deh. Yaitu cucian kotor!! Nyohohoho... Uek uhuk uhuk!” Cintiff kesedak.

   Taeyeon POV
   Rasain tuh kesedak ludah sendiri. Bawel sih...

   “Nah tuh gerobaknya da... teng??” Heechul mengangan melihat gerobak segede upil *lebay* berhenti di depan mereka. “Ini beneran gerobak Gajah?” Heechul nggak percaya.
   “Iya benar. Saya Yunho, supir gerobak Gajah. Yaitu gerobak Gak Ada Jarak Antara penumpHang *maksa.com*
   Heechul, Cintiff, dan Yuder langsung ngangan lebar. Kalo arti gajahnya tuh kayak yang disebutin Yunho ya pas sih. Soalnya itu kotak kayaknya cuma berukuran nggak lebih dari 30x30 cm.
   Heechul, Cintiff, dan Yuder berdiri di gerobak tersebut dengan satu kaki. Persis kayak orang disetrap. Taeyeon cekakan ngeliat hal tersebut. Tapi begitu masuk kamar dia kembali sedih.
   
   “Huff... Aku juga mau ke pesta dansa. Pengen a..!!” Taeyeon ngentak-ngentak kakinya.
   TRIINNGG!! Tiba-tiba aja di depan dia ada peri.
   “Huwaa!!” Taeyeon sama peri tersebut sama-sama teriak.
   “Ya! Kamu siapa?” galak Taeyeon.
   “Aku peri yang kamu panggil.”
   “Heig? Sejak kapan aku manggil peri?” Taeyeon bingung,
   
   “Lah, tadi kamu kan teriak Yoon a...! Itu namaku.”
   “Situ kege-eran namanya dipanggil atau budeg? Aku kan bilangnya pengen a..!”
   “O iya ya?” Yoona langsung senyum-senyum malu. “Ya udah deh, aku udah keburu ke sini juga. Jadi kamu punya permintaan apa?”
   
   “Maksudnya?”
   “Ya kamu punya permintaan apa saat ini. Ntar aku kabulin.”
   “Jinja?”
   “Yoha.”
   “Kebetulan, aku ingin banget ikut pesta dansa malam ini. Kamu bisa nggak bantuin aku buat pergi ke sana?”

   “Cuma pergi ke pesta dansa? Gampang... Sekali tring juga kamu bisa nyampe ke sana,” sombong Yoona.
   “Tapi aku juga lusuh begini. Trus masa aku tiba-tiba di tring-in ke sana? Bisa disangka jin aku!”
   “Jadi kamu mau minta apa?”
   “Pakaian yang bagus terus kendaraan buat ke sana.”
   
   “Cuma itu? Gampang-gampang...” Yoona komat-kamit baca mantra,” Sim sim terima kasim sim, simpak di lautan tan, baju jelek banget-nget, jadi bagus-gus!” *lagu anak-anak yang lirik sama nadanya udah saia improvisasi*
   TRING! Baju lusuh Taeyeon brubah menjadi gaun putih indah.
   “Nah, sekarang kendaraannya. Ntar ya aku panggilan temen-temenku. PRIWITT!!” siul Yoona. Keluarlah tiga tikus teman-temannya. Hyoyeon, Eunhyuk, dan Micky.
   “Kurang satu lagi. PREWETT!!” suit Yoona lagi. Keluarlah labu yaitu Shindong.
   “Aku udah kurus tetep aja perannya labu!” dumel Shindong.

   “Ini buat apaan peri?” Taeyeon bingung ngeliat Yoona ngeluarin tikus dan labu yang bentuk-bentuknya pada aneh semua.
   “Ini buat jadi kendaraan kamu. Entar aku modif dulu.” Yoona ngeluarin tongkatnya yang berupa lollipop lalu mulai membaca mantra. “Tikus, tikus di tanah. Ayo ayo berubah. Saya bacakan mantra. Bah! Langsung berubah!” (baca dengan nada cicak-cicak di dinding.
   POFF!! Hyoyeon berubah menjadi kuda yang jago ngedance. Micky jadi kuda yang rambutnya mangkok. Eunhyuk jadi kuda yang bisa manjat pohon.

   Eunhyuk: Kenapa sih peranku nggak jauh-jauh dari nyemot??

   “Nah, sekarang giliran kamu. Labu, labu endut. Berubah jadi kereta!”
   POFF!! Shindong berubah menjadi kereta.

   Shindong: Mantra untuk aku kok pendek amat?
   Author: Bawel! *langsung dilempar batu sama Shindong*

   “Sekarang udah komplit kan?”
   “Iya... Makasih ya peri...” ujar Taeyeon berkaca-kaca.
   “Eit, jangan bombay-bombayan dulu. Denger ya, semua ini cuma bisa bertahan sampe jam 12 malem.
   “Kok gitu?”
   “Pertama, tuh baju yang kamu pake harus dilaundry. En laundry tuh bukan warnet, yang bukanya 24 jam. Jadi sebelum jam 12 malem harus udah balik. Lagian tuh baju boleh nyolong punyanya peri tetangga. Nah yang kedua ini yang penting. Aku mau syuting Nggak Lewat Tengah Malam. Jadi sebelum jam 12 malam aku harus udah sampe di tempat syuting. Aratseo?” Taeyeon ngangguk. . “Okeh, saya pergi dugem dulu ya. Deh...” Yoona langsung menghilang dari pandangan.
   Taeyeon lalu pergi ke pesta dansa tersebut dengan kereta kuda pemberian Yoona...
***
   “Omo... liat istriku. Banyak banget gadis-gadis cantik di negeri ini.” Donghae cengengesan ngeliat gadis-gadis yang dateng ke istana. Jessica ngeliat tingkah suaminya itu bete. “Nggak salah papa nyari calon istri buat papa, eh salah, anak kita.” Donghae keceplosan. Jessica udah siap-siap bawa parang buat ngegorok Donghae.
   “Ampun ma... Papa janji nggak akan ngenyepuluhin mama...”

   Donghae dan Jessica merhatiin Junsu anak mereka yang bengong di lantai dansa. Nggak ada satupun gadis yang menarik perhatiannya. Di saat itulah Taeyeon masuk ke dalam ruangan tersebut.
   Jantung Junsu langsung berdebar-debar ngeliat kedatangan Taeyeon.
   “Puteri yang cantik, siapakah gerangan namamu?”
   “Oo... Pangeranku yang tampan. Aku malu untuk menyebutkan namaku yang tidak seindah bintang di langit, tidak seharum bunga di taman, tidak se... se.. Eh author, abis ini ngomong apa?” bisik Taeyeon.
   
   Saia: Maap, kertas bagian itu kecuci. Ente improvisasi aja yah... *kabur*
   Taeyeon: Oi, jangan kabur. Ntar yang nulis siapa?
   Saia: O iya ya *ngetik lagi*
   
   “Se... se... semurah sayur yang dijual Ko Zhou Mi,” ngarang Taeyeon.
   “Heig?” Junsu bingung. “Ya sudahlah, maukah kau berdansa denganku?” Tanya Junsu seraya berlutut ala film-film kolosal.
   Taeyeon mengangguk dengan semangat. Mereka lalu berdansa. Heechul, Cintiff, dan Yuder ngeliat hal itu dengan kesal.

   “Putri, apa kamu bisa menyanyi?” Tanya Junsu ketika mereka sedang berada di taman istana.
   “Tentu saja. Oppa mau dinyanyiin?”
   “Mao, mao...” Junsu langsung mupeng.
   “Oke. Aku nyanyi ya.” Taeyeon menyanyikan sebuah lagu mellow yang langsung menyentuh hati Junsu. Di tengah-tengah lagu tiba-tiba Eunhyuk teriak dari atas pohon. “Oi, bentar lagi jam 12!”
   “Waa! Ada kuda bisa manjat!” Junsu syok.

   “Jangan kaget lebay gitu! Aku ini setengah kuda setengah nyemot!” dumel Eunhyuk turun dari atas pohon lalu Taeyeon naik ke punggungnya dan pergi dari situ.
   “Putrii!!!” teriak Junsu dramatis. Dia melihat ke bawah. Ada secarik kertas yang jatuh dari gaun Taeyeon *tau dari mana saia?* Junsu mengambil kertas tersebut dan membacanya. Ternyata itu lirik lagu yang dinyanyikan Taeyeon! *sok tau saia* Judulnya Kamu Nggak Budeg Kan? (baca: Can you hear me?).
   “Putri, aku pasti akan menemukanmu...” JRENG JRENG!

***
   Besoknya diadakanlah pencarian siapa yang bisa menyanyikan lagu tersebut. Setelah gagal untuk ke 1200 kalinya akhirnya Junsu sampai di rumah keluarga Taeyeon.
   “Ketok gih pintunya,” perintah Junsu ke Kyuhyun, pengawalnya.
   “Ini harapan terakhir kita. Mudah-mudahan aja putri yang Anda cari ada di sini ya Pangeran.”
   
   Sebelum Kyuhyun mengetok pintu, pintu tersebut udah kebuka duluan. Heechul, Cintiff, dan Jessica udah nongol seraya nyengir-nyengir geje.
   “Mau nyari siapa putrinya kan? Ini anak-anak saya,” sodor Heechul.
   “Yakin Om?” Tanya Kyuhyun.
   “Nggak sopan! Aku ini wanita!” Heechul mengemplang Kyuhyun pake kipas.
   
   “Ya sudah, kalo gitu silahkan kalian nyanyi,” perintah Junsu.
   “Aku dulu ya!” Cintiff mulai nyanyi. “You say akyu, syeperti nyamuk. Siang makan nasi, malam minum susu,” ngaco Cintiff.
   “Gagal gagal. Bukan pok ame-ame versi cinca laura yang dinyanyiin putri.”
   “Kalo gitu sekarang aku!” Yuder beraksi. “Oh papa, oh papa, mengapa tak pulang pulang...”
   
   GUBRAAKK!! Pada saat Yuder nyanyi itu tiba-tiba Siwon jatih dari langit.
   “Lho suamiku, kamu masih idup?” Heechul syok.
   Siwon tepuk-tepuk pantatnya yang sakit. “Ya iyalah, aku tuh nggak pulang gara-gara malu nggak dapet-dapet pekerjaan. Makanya aku milih tinggal di loteng rumah ini dan makan secara diam-diam,”cerita Siwon.
   “O pantesan makanan di kulkas sering ludes!” Heechul menjewer kuping Siwon. “Trus kenapa sekarang baru muncul??”
   
   “Loteng rumah udah jelek. Jebol deh pas tadi aku guling-guling gara-gara ngetawain si Cintiff sama Yuder nyanyi.”
   Tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah. Suara Taeyeon.
   “Ini kan suara... Putriii!!!” Junsu berlari masuk ke dalm rumah dan menemui Taeyeon. “Jadi kamu tinggal di sni? Tanya Junsu.
   “Iya...”
   “Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu dan mendengar nyanyian ‘Kamu Nggak Budeg kan?’ milikmu. Jadi maukah kamu menikah denganku?”
   
   Taeyeon mengangguk. “Yes, I do...”
   Cintiff dan Yuder yang mendengar hal itu langsung teriak, “CINDER NGGAK RELLAAAA!!!”

-END-

Tags:

TLT Chapter 1

PanDa

FanFic ini aQ buaT uNtuk KeliMa Oppaku + My LoveLy piaNo..
Enjoy!!


CHAPTER 1


   “Birama ke-18 not nada ke 2 <input ... >salah. <input ... >Coba kau lebih konsentrasi lagi. Kau sering <input ... >salah dalam menghitung ketukannya. Jangan lupa ada tanda tie di sini. Jadi nada ketiga tidak usah kau tekan. Tahan saja,” ceramah Dae Won-ssi kepada Hye Joon. Hye Joon mendengarkannya dengan seksama. Jarinya <input ... >yang mungil mencoba mengulang kembali nada tersebut.

   “Ya... Itu sudah lumayan. Latihan kita sampai di sini dulu. Kau latihan lagi ya di rumah...” Dae Won mengacak-acak rambut murid kecilnya tersebut.&nbsp; Hye Joon membereskan buku-buku pianonya <input ... >dan keluar dari ruangan tersebut. Murid Dae Won-ssi <input ... >yang berikutnya memasuki ruangan tersebut.

   Hye Joon keluar melihat tempat parkir. Mobil jemputannya belum datang. Hye Joon menggelembungkan pipinya tanda ia kesal. Dia mau masuk ke dalam tempat kursusnya lagi. Tetapi niatnya itu terhenti begitu dia melihat gudang tempat lesnya itu terbuka. Gudang itu biasanya tertutup <input ... >dan para murid dilarang untuk ke sana.

   Hye Joon penasaran dengan ruangan tersebut. Dia berlari kecil ke gudang <input ... >yang berada sekitar 10 meter dari situ. Hye Joon berdiri tepat di depan pintu gudang <input ... >yang terbuka itu. Terdengar dentingan piano <input ... >yang dimainkan dari dalam gudang tersebut.

   “Fantasie?” gumam Hye Joon bingung. Perlahan dia masuk ke dalam gudang tersebut. Di dalam tersebut terdapat barang-barang lama <input ... >dan alat-alat music <input ... >yang sudah tidak terpakai lagi. Hye Joon melihat ke arah biola <input ... >dan Cello <input ... >yang senarnya sudah lepas, drum <input ... >yang cymbal <input ... >dan tomnya tidak <input ... >ada, tumpukan mic, tapi dia sama sekali tidak melihat adanya piano.

   Hye Joon berjalan lagi ke dalam ruangan kedua di dalam gudang tersebut. Dia terbatuk sedikit menghirup debu di ruangan itu. Tetapi suara piano tersebut semakin jelas. Hye Joon mendekat ke dekat lemari panjang <input ... >yang membagi ruang itu menjadi dua. Dia melongokkan kepalanya ke ruangan satunya, tampak anak lelaki seumurannya sedang memainkan piano <input ... >yang <input ... >ada di situ. Tanpa sengaja Hye Joon menginjak stick drum tua <input ... >yang tergeletak begitu saja di lantai sehingga menimbulkan bunyi. Anak lelaki tersebut langsung menghentikan permainannya.

   Hye Joon berdiri takut saat melihat anak tersebut menatapnya tajam. “Sedang apa kau di sini?” tanyanya dingin.
   “Aku... aku...,” Hye Joon jadi gugup,”Harusnya aku <input ... >yang bertanya itu padamu. Kau bukan murid di sini kan? Aku tidak pernah melihatmu.”

   “Aish, pasti aku tadi tidak menutup pintunya rapat,” gerutunya pada diri sendiri. Dia melirik ke jam tangannya lalu raut mukanya berubah kaget seperti teringat sesuatu. Cepat-cepat dia membereskan buku pianonya <input ... >yang terlihat tua, berdiri, <input ... >dan keluar dari situ.

   Hye Joon mengikutinya dari belakang. “Hey, kau bukan murid di sini kan? Kenapa kau bisa <input ... >ada di sini? Namamu siapa?” cecar Hye Joon. Anak lelaki tersebut tetap diam sambil mempercepat langkahnya. Hye Joon tetap mengikutinya. “Umurmu berapa? Apa 5 tahun sepertiku? Hebat sekali kau bisa memainkan Fantasie Impromptu.”

   Anak tersebut berlari meninggalkan Hye Joon ke pintu depan tempat les tersebut. “Hey tunggu!” teriak Hye Joon. Dia ingin berlari menyusulnya tetapi <input ... >mobil jemputannya sudah datang. Seorang pria paruh baya keluar dari dalam <input ... >mobil tersebut <input ... >dan mendekati Hye Joon.

   “Ayo nona. Setelah ini Anda harus mengikuti les balet,” ujar pria <input ... >yang bernama Ryeomin tersebut. Hye Joon melihat ke arah anak tersebut <input ... >yang sedang berdiri di depan pintu gedung lesnya seperti menunggu seseorang. Hye Joon mengangguk pelan kepada Ryeomin-ssi lalu masuk ke dalam <input ... >mobil mewahnya.

   Hye Joon memperhatikan anak tersebut dari dalam <input ... >mobil. Tak lama setelah itu seorang anak perempuan <input ... >yang lebih muda dari anak lelaki tersebut keluar dari tempat les tersebut. Lalu mereka pulang bersama. Hye Joon memperhatikan mereka berdua sampai mobilnya benar-benar meninggalkan tempat tersebut.
***
   Pada les berikutnya Hye Joon masih memikirkan tentang anak tersebut. Permainannya menjadi sedikit kacau.
   “Hye Joon-a, apakah kau sakit?” tanya Dae Won-ssi pada muridnya itu.
   “Hm? Anio... Aku cuma capek saja akhir-akhir ini.”

   “Mungkin itu karena kau terlalu banyak mengikuti kegiatan. Aku rasa kau harus mengurangi beberapa lesmu. Bagaimanapun juga umurmu masih 5 tahun.” Dae Won mengelus kepala Hye Joon. “Istirahatlah dulu sekitar 20 menit. Jangan lupa latih lagi stacattonya. Aku ke ruangan Jang Wook-ssi dulu.” Dae Won-ssi keluar dari ruangan tersebut.
   
   Hye Joon melatih kembali nada yus <input ... >yang digabung dengan staccato tersebut. Tapi tetap saja dia tidak bisa. “Hhh!!!” kesal Hye Joon sendiri. Dia meremas-remas tangannya serta menggigit bibir bawahnya <input ... >yang merupakan kebiasaannya kalau sedang kesal atau gugup.
   
   Hye Joon memutuskan keluar ruangan sebentar untuk membeli jus sebentar. Begitu keluar Hye Joon kaget melihat anak lelaki <input ... >yang ditemuinya kemarin. Hye Joon mau menyapanya. Tapi melihat anak tersebut <input ... >yang berpura-pura tidak melihanya Hye Joon langsung mengurungkan niatnya.
   
   “Birama ke-18 not kedua selalu <input ... >salah. Ketukannya harusnya kau hitung tiga. Birama ke-22 kau kurang bisa memainkan nada yusnya. Apa stacattonya membuatmu susah?”

   Langkah Hye Joon terhenti. Dia menatap anak tersebut heran. “Darimana kau tau?” Anak itu hanya mengangkat bahu. “Kalau kau merasa permainanku <input ... >salah, ya sudah, tunjukkan dong <input ... >yang benarnya gimana.”

   Mata anak itu menyipit tajam. “Kau meragukanku?”
   “Kau tidak pernah ikut les di sini. Jadi bagaimana aku tau permainanmu?”
   Anak itu berdiri lalu berjalan ke arah pintu keluar. “Hei, mau ke mana?” panggil Hye Joon. “Mengajarimu,” jawabnya pendek.

   “Aku?” alis Hye Joon terangkat tanda ia bingung. Dia mengikuti anak tersebut. Mereka berjalan ke arah gudang tua <input ... >yang merupakan tempat mereka bertemu kemarin.
   “Hei, kita kan belum kenalan. Namamu siapa? Aku Hye Joon,” ujar Hye Joon sat mereka masuk ke dalam gudang. Anak itu diam saja. Tapi tak lama kemudian dia menjawab,”Namaku Yoochun.” Hye Joon tersenyum mendengarnya.

   Mereka menuju ke piano tua <input ... >yang <input ... >ada di ruangan kedua di gudang tersebut.
   “Uhuk,uhuk,” batuk Hye Joon ketika terhirup debu di piano tersebut. Yoochun nyengir kecil melihat hal tersbut. “Kok kamu pakenya buku <input ... >yang tua itu sih?” tunjuk Hye Joon ke buku <input ... >yang sedang dibuka Yoochun.
   “Karna aku tidak les sepertimu nona muda,”&nbsp; jawabnya.

   “Mm... Simphony <input ... >yang ini bukan?” tanyanya ke Hye Joon seraya menunjuk halaman buku <input ... >yang dibukanya. Hye Joon mengangguk. “Yang birama ke-18 ini mungkin kau terlau terburu-buru menghitung ketukannya. Kalau <input ... >yang ke-22 kau belajar dengan tidak memainkan nada yus dulu. Hitung 3 ketuk dulu seperti biasa,” terang Yoochun.

   Hye Joon hanya manggut-manggut. “Mau <input ... >coba?” tawar Yoochun. Hye Joon mengangguk. Dia mulai menekan tuts-tuts piano itu. Birama ke-18 dilewatinya tanpa masalah. Tetapi begitu masuk ke birama 22 lagi-lagi dia salah dalam memainkan nada yus <input ... >dan stacattonya.

   “Kau <input ... >coba saja dulu untuk tidak memainkan nada yusnya <input ... >dan berkonsentrasi pada stacattonya. Seperti ini.” Yoochun member contoh. Hye Joon mengikutinya. Pada usahanya <input ... >yang kelima dia dapat melakukannya dengan baik.

   “Nah... Tuh kan kau bisa. Kau kan cerdas. Pasti bisa deh...”
   Hye Joon tertawa geli. “Sok tau! Darimana kau tau aku ini cerdas?”
   “Yah... Sebenarnya aku sering mendengarkanmu latihan saat aku menunggu adikku,” ujar Yoochun malu-malu.

   “Adik? O... Anak perempuan yang mungil itu? Waktu kita ketemu kemarin aku melihatnya pulang bersamamu.”
   “Iya. Dia itu adik angkatku. Keluarganya mengangkatku dari panti asuhan ketika aku berumur 3 tahun.”
   “Hm?” Hye Joon terdengar sedikit kaget. Dia merasa tidak enak melihat perubahan wajah Yoochun yang menjadi sedikit muram. “O ya, kemarin aku mendengar kau bermain Fantasie Impromptunya Chopin. Itu kan susah. Kau belajar dari mana? Bukannya kau tidak les?”
   
   “Aku belajar dari ayah angkatku. Dia termasuk pianist yang hebat. Buku yang kau bilang tua ini merupakan bukunya dulu. Adikku tidak mau diajar olehnya. Dia lebih suka diajar dengan orang yang dia tidak kenal. Tapi karena dia les di sini aku jadi bisa menemukan tempat bagus ini. Jadi aku berterima kasih juga padanya.” Yoochun tersenyum lebar.

   Hye Joon memperhatikan sekelilingnya. Di mana bagusnya? Cuma ada barang rongsokan gini? Yoochun sadar dengan raut wajah Hye Joon yang bingung. “Suatu saat kau akan tahu kalu tempat ini bagus dan berharga.”

   “O ya, itu yang tadi lagu buat konser nanti ya?” tanya Yoochun.
   “Iya, kau dateng ya pas konser nanti!”
   “Ya pasti lah. Kan adikku juga ikut.”

   “O iya ya,” nyengir Hye Joon. “Tapi aku sedih juga. Itu merupakan konser ku yang terakhir di Seoul. Karena besoknya aku akan pindah ke Warsawa.”
   “Warsawa?”
   “Iya. Karena itu kamu mau nggak ajarin aku Fantasie? Aku mau sebelum ke Warsawa aku bisa memainkannya.”
   “Hm? Ya boleh aja sih...”

   “Janji?” Hye Joon menyodorkan jari kelingkingnya. Yoochun tertawa kecil melihatnya. Tapi akhirnya dia mengaitkan jari kelingkingnya juga.
   Hye Joon melihat jam tangannya. “Gawat, aku udah telat nih. Dae Won-ssi pasti sudah menungguku. Aku pergi dulu ya!” Hye Joon berlari keluar. Yoochun melihatnya sambil tersenyum. Dia mengelus lembut kelingkingnya.
***
   “Gugup?” Tanya Yoochun saat melihat Hye Joon meremas-remas tangannya lalu menggigit bibir bawahnya. Dia tau itu merupakan kebiasaan Hye Joon saat gugup. Hye Joon mengangguk pelan. “Bagaimana kalau nanti aku salah memainkan nadanya?”
   
   “Kau kan sudah melatihnya dengan keras. Tidak mungkin gagal deh...” Yoochun berusaha menenangkan.
   “Tapi aku masih gugup oppa...”
   “Ya sudah, sekarang kau coba pejamkan matamu. Apa yang pertama kali kau bayangkan?”

   Hye Joon tampak berpikir. “Hm... Eomma dan Appa,” jawabnya pelan.
   “Itu artinya kau harus percaya kau bisa bermain dengan baik. Sehingga orang tuamu bangga... Lau siapa lagi?”
   “Dae Won-ssi,” jawab Hye Joon polos.
   Yoochun tersenyum geli. “Itu artinya kau tidak boleh membuat dia kecewa... Lalu siapa lagi?”

   “Oppa,” jawab Hye Joon langsung. Yoochun diam. “Itu artinya aku harus bermain baik demi oppa yang sudah mengajariku. Anggap ini hadiahku buat oppa!” seru Hye Joon semangat. “Besok tunggu aku ya di tempat les. Sebelum aku pergi ke bandara aku ingin bertemu oppa.”

   “Iya iya.” Yoochun mencubit pipi Hye Joon.
   Seohyun menatap hal itu dari sudut backstage dengan kesal. Jadi itu yang membuat oppanya akhir-akhir ini tidak menerimanya lagi? Lihat saja nanti...
***
“Hye Joon-a, ayo sayang, apa lagi yang mau kau tunggu?” seru ibunya lembut dari dalam mobil.
“Aku mau menunggu seseorang eomma.” Hye Joon celingukan mencari sosok Yoochun.
“Tapi kita bisa ketinggalan pesawat kalau tidak berangkat sekarang.”
   
“Beri aku 10 menit, mm... tidak, 5 menit saja. Aku segera kembali!” Hye Joon berlari ke arah gudang. “Hye Joon-a!” teriak ibunya. Hye Joon tidak mempedulikannya. Dia berlari masuk ke dalam gudang.
   
Dia sedikit berharap menemukan sosok Yoochun sedang bermain piano di situ. Tapi ternyata tidak ada. Hye Joon menghela napas kecewa.
“Oppa... Apa kau lupa dengan janjimu?” desahnya. Kemudian dia mengeluarkan sebungkus kado yang diluarnya digambarinya dengan wajahnya dan Yoochun. “Aku pergi dulu ya...” Hye Joon tersenyum kecil lalu keluar dari situ. Dia sekarang merasa kalau tempat itu berharga...






How was iT???
Comments are Love..

Chapter 1

PanDa

My First 'Kacrut' Fanfic...
Hope you'll like it...
Mian iap kalo rada garing..




 

CHAPTER 1



“Kenapa Ji Sub nggak bisa ngomong R?” Eeteuk memberi tebak-tebakan saat istirahat. Nggak ada yang menanggapinya.
Yunho ribut rebutan buku sama BoA. Heechul dan Micky main gang suit. Junsu cengo-cengo bego ngiler liat makanannya Shindong. Tapi walaupun dicuekin    Eeteuk tetap maju pantang mundur. “Karena waktu masih orok dia absen pas pembagian huruf R! Hahaha...” Eeteuk tertawa sendiri.
   SIINNNGGG...
   “Yunho-yah! Aku tuh udah dari kemarin booking bukunya Hankyung!” teriak BoA.
   “Gila, kau niat bener sih nyonteknya?” Yunho geleng-geleng kepala. “Tapi sayang Anda kurang beruntung! Aku udah booking bahkan sejak PR ini belum dikasih. Weekkk!!” Yunho melet. Kesal, BoA menjitaknya. Ujung-ujungnya mereka malah kejar-kejaran dalam kelas.
   “Aigoo... Kalian nggak ada permainan lain apa selain suit-suitan nggak jelas gitu??” Dana kesal ngeliat Heechul dan Micky yang asyik suit-suitan.
   “Dana-ssi, kau coba dulu deh, seru kok. Sekarang nggak zaman suit pake batu, gunting, kertas. Yang lagi ngetrend tuh gajah, orang, semut!” Heechul memberi contoh dengan jempol, telunjuk, dan kelingkingnya.
   “Masa sih?” Dana jadi tertarik. Akhirnya dia pun jadi ikutan main suit-suitan sama dua orang dudul itu.
   “Stephanie!” panggil Junsu.
   “Mwo?” jawab Stephanie lemas.
   “Itu...” Junsu menunjuk kea rah Shindong yang lagi melahap burger dengan semangat ’45.
   Stephanie melihat hal tersebut dengan pandangan bersinar.
   “Beliin dong...” rayu Junsu.
   “Yee... AKu juga lagi nggak ada duit! Aku lagi kena hukum sama eomma gara-gara sering make uangnya buat beli make-up. Uang jajanku dipotong tauk! Ini juga aku lagi kelaparan!” gerutu Stephanie panjang. Dia mengalihkan pandangan keYesung. “Yesung-ssi, pinjem duit dong...” Stephanie memasang tampang semanis mungkin.
   Yesung memasang tampang sinis. “Enggak. Hero aja belom bayar utangnya. Gimana aku bisa minjemin ke kamu?” Yesung beralasan.
   Stephanie manyun. Yesung kalo soal duit emang itung-itungan banget. Tapi yang ngebuat heran, Hero kok selalu sukses ya ngutang sama Yesung? Pada akhirnya Stephanie sama Junsu cuma bengong liatin Shindong makan.
   Nggak berapa lama kemudian Hero datang terengah-engah ke dalam kelas. Yesung langsung mencecarnya, “Hero, bayar utangmu dong!!”
   “Aish, saat ini jangan bahas utang dulu deh! Ini Yeon Hee lagi ngejar-ngejar aku. Bilang aku nggak ada ya kalo dia nyari aku ke sini!” pesan Hero. Kemudian di ngumpet di balik kursi Micky dan Heechul.
   “Oppaaa!!!” teriak Yeon Hee ketika dia berada di pintu kelas 3-2. Otomatis mereka menutup kuping mendengar frekuensi suara Yeon Hee.
   Heechul sibuk merapikan rambutnya.
   “Gimana penampilanku? “ Dia meminta pendapat Micky. Micky mengacungkan jempolnya.”Good Job fren, kau benar-benar mirip sama badut.”
   Yeon Hee celingukan di dalam kelas.
   “Yeon Hee-yah, kau cari siapa? Aku kan di sini,” sapa Heechul ceria plus PD jaya.
   “Siapa sih kau? Diem dulu dong, aku lagi nyari Hero oppa!” cuek Yeon Hee.
   Micky cekakan ngeliat tampang Heechul yang lagi garuk-garuk lantai karena dicuekin Yeon Hee.
   “Yeon Hee, bayar dong utangmu sama Hero,”tagih Yesung seraya membawa buku catatan hutangnya.
   “Sst... Diem dulu, aku lagi nyari Hero Oppa.” Yeon Hee cuek dengan tagihan utangnya.
   “Aish, nggak adik nggak kakak sama aja tukang utang!” dumel Yesung seraya kembali duduk di kursinya.
   “Siapa suruh diutangin mau?” dengus Yeon Hee.
   Yeon Hee sibuk celingukan mencari Hero lagi. Tiba-tiba... BRAAKKK!!! Hero keluar dari belakang Heechul dan Micky dengan pucat dan sukses menabrak meja yang ada di depannya. Heechul mengikuti jejak Hero yang tiba-tiba pucat dan histeris.
   “Mickyyy!!! Kalo&nbsp; kentut kira-kira dong...! Orang koma bisa lewat kalo nyium kentutmu!” omel Hero.
   Micky Cuma pasang tampang innocent. Sedangkan Hero dan Heechul udah megap-megap kayak orang sekarat. Tanpa basa-basi Yeon Hee menghampiri Hero dan menjewernya.
   “Adauw!” ringis Hero.
   “Oppa, kembaliin uangku!” teriak Yeon Hee.
   “Utang...” sela Yesung.
   “Brisik!!” bentak Hero dan Yeon Hee kompak.
   Yesung langsung mangkel ngedengernya.
   “Emang kalo soal ngehandle utang mereka berdua jagonya,” Junsu dan Stephanie ribut keplok-keplok sendiri.
   Tiba-tiba ada suara riuh dari luar. Anak-anak cowok pada main sepakbola. Sesaat pandangan Yeon Hee beralih ke luar jendela buat ngeliat siapa yang lagi main sepakbola. Hero langsung mengambil kesempatan itu buat... kabur! Alhasil dia dan Yeon Hee kejar-kejaran lagi.
   “Emang kakak beradik yang kompak,” puji Junsu dan Stephanie lagi.
   “Iya, kompakan juga nggak bayar hutangnya!” kesal Yesung.
   Bel masuk berbunyi. Sunmi dan Kyuhyun yang tadi maen ke situ langsung ngacir ke kelasnya. Nggak berapa lama kemudian Pak Kim Jung Woo memasuki ruangan. Kelas masih riuh waktu Pak Jung Woo bilang bakalan ada murid baru. Tapi begitu melihat murid barunya, kelas langsung diem mendadak.
   Seorang cewek tinggi, putih, dengan senyum manis masuk ke dalam kelasnya. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai indah. Semua langsung terpana melihatnya.
   “Anak-anak kalian hari ini kedatangan murid baru. Namanya Ji Ah. Silahkan kamu memperkenalkan dirimu.”
   Ji Ah tersenyum. “Annyeong Haseyo... Jeoneun Ji Ah imnida. To mannasibda...” Ji Ah membungkuk hormat.
   “Mm... kamu duduk di...” Pak Jung Woo mengedarkan pandangan ke penjuru kelas.
   Junsu heboh sendiri. Dia sibuk ngusir Heechul yang merupakan teman sebangkunya. “Heechul, kamu pindah ke pojokan sana gih!” usir Junsu.
   “Nggak mau ah! Aku udah PeWe di sini. Lagian kalo mau kamu aja yang pindah sana. Kenapa harus aku?” tolak Heechul.
   “Lah, kamu nggak mau dapet kesempatan duduk sama Ji Ah?”
   “Bagiku hanya ada Yeon Hee seorang...” jawab Heecul dengan nada bak seorang pujangga.
   “Aish!” Junsu kesal sendiri. Dia pindah ke pojokan. Lalu dengan semangat dia mempromosikan diri. “Soensaengnim, Ji Ah duduk di sampingku aja!” serunya semangat.
   Semua langsung ngelemparin dia pake kertas. Bahkan Hero dengan semangat melemparnya pake kursi. Sementara yang lain sibuk ngebullying Junsu, Eeteuk malah terpaku di tempatnya.
   “Teukie, minjem penghapus bentar dong,” seru Micky yang ada duduk di sampingnya.
   Eeteuk tidak bereaksi. Micky nyenggol-nyenggol dia. Tapi Eeteuk tetap diam. “Teukie pengki!” teriak Micky. Eeteuk cuek. Akhirnya karena kesal Micky mencoba membakar kursi Eeteuk plus Eeteuknya sekalian.
   “Wadauuwww!!!” pekik Eeteuk ketika merasa pantatnya panas.
   “Eeteuk, kamu kenapa?” Tanya Pak Jung Woo.
   “Kursi saya dibakar Micky , Pak. Sedangkan sayanya juga lagi OTW kalo nggak cepet-cepet dipadamin.”
   Dengan inisiatif mereka sendiri, Junsu dan Hero menyiram Eeteuk pake seember air. Hari-hari Eeteuk semakin parah.
   

***

“Yeon Hee, kita ke kelas 3 yuk. Katanya ada murid baru lho. Cantik,” ajak Sunmi.
   Yeon Hee tidak menjawab. Dia malah bertopang dagu seraya memasang tampang malas.
   “Ayolah Yeon Hee, kan kau sekalian bisa ketemu Hero Oppa.”
   “Tiap hari selama 16 tahun ini aku bertemu Hero Oppa di rumah. Jadinya aku udah eneg liat tampangnya. Lagian males ah. Ada Yesung Oppa, ntar dia nagih utang lagi.”
   Bibir Sunmi manyun. “Nggak kakak nggak adik hobinya ngutang!”
   Yeon Hee cuek. Dia malah mau ketiduran di kelas.
   “Yeon Hee, tumben ngantuk di kelas. Biasanya jam segini kau di perpus baca buku segede-gede gaban,” ujar Sunday seraya duduk di samping Yeon Hee,
   “Kemarin aku nonton video-video East of Eden sampe malam (narsis mode:ON).”
   “Yee dasar, maniak drama!”
   Tiba-tiba Donghae, Max, dan Minho menghampiri Yeon Hee dan Sunday.
   “Yeon Hee-yah, “ panggil Donghae.
   “Hm, apa?” Yeon Hee menanggapi dengan malas-malasan.
   “Tadi kau dicariin Key,” seru Donghae.
   Mendengar nama Key disebut muka Yeon Hee langsung berubah cerah. “Dia bilang apa?”
   “Dia Cuma bilang, ‘Aku udah dapet’. Tau deh apanya yang udah dapet,” seru Donghae.
   Yeon Hee langsung berdiri semangat, “Trus Keynya ke mana?”
   “Meneketehe,” jawab Max nyebelin.
   “Ke kelas 3-2 Onnie,” jawab Minho.
   Yeon Hee langsung berlari ke luar kelas dengan cepat.
   “Ngapain Key ke 3-2?” Max bingung. Biasanya Key males banget ke kelas 3-2. Soalnya ada Dana yang sering gangguin dia.
   “Ada anak baru di sana. Cewek. Cantik,” terang Minho.
   Max langsung menjitak Minho. “Dudul! Kenapa nggak bilang dari tadi kalo ada cewek cantik? Yeon Hee... Tungguuuu!!!” Max berlari mengejar Yeon Hee. Mau nggak mau Donghae, Minho, dan Lina ikutan ngejar mereka berdua.
   Yes, yes, akhirnya Key dapet juga! Seru Yeon Hee girang dalam hati. Karena dia berlari dalam kecepatan maksimum, dia nggak sempat ngerem saat Siwon lewat di depannya. Alhasil dia menabrak Siwon dan disusul oleh Max yang nggak sigap dengan tabrakan itu dan menimpa mereka berdua.
   “Tuan muda tidak apa-apa?” tanay salah satu pengawal (cailah...) Siwon.
   “Nggak kok, aku nggak apa-apa,” jawab Siwon seraya membetulkan blazernya.
   Ketiga pengawalnya mencekal tangan Yeon Hee dan Max.
   “Auw! Apa-apaan sih? Siwonnie, suruh mereka lepasin dong!” cecar Yeon Hee. Dia dan Max meringis kesakitan. Siwon menatap Yeon Hee datar.


Sementara itu di 3-2...
   “Ji Ah, namaku Junsu. Nama lainku Xiah loh... Mirip kan? Beda Je sama E   x doang. Berarti kita jodoh!” seru Junsu saat dia dan anak-anak yang lain berkenalan dengan Ji Ah.
   “Nggak nyambung, nggak mutu, nggak pentiinnnggggg...!!!” koor yang lain kompak.
   “Kenapa sih kalian? Sirik aja!” sungut Junsu.
   “Ji Ah, katanya kamu suka main biola ya? Aku juga lho...” promosi Yunho.
   “Yah... Sejak kapan kau bisa main biola? Tau biola yang mana aja kau nggak!” sengit BoA.
   “Tau dong. Yang ditiup itu kan? Yang pemain terkenalnya itu Beethoven!” jawab Yunho Pede 12 juta tapi salah.
   Kangin mengemplang Yunho. “Heh, dari zaman dinosaurus betelor sampe zaman robot bisa masak, biola tuh digesek bukan ditiup!”
   “Tau nih, lagian Beethoven itu kan pemain drum, bukan biola!” celetuk Hero.
   Sunmi menjitak Hero. “Heh, Beethoven itu pemain piano, dodol!”
   “Ala... Yang penting sama-sama alat music!” jawab Hero cuek.
   Ji Ah tersenyum geli mendengar celetukan-celetukan mereka. Tapi pandangannya tertuju ke Eeteuk yang lagi duduk di pojok sama Heechul dan Eunhyuk.
   “Nggak gabung dengan yang lain?” Tanya Eeteuk ke Heechul.
   “Nggak ah. Aku tetap setia sama Yeon Hee. Kau sendiri kenapa nggak gabung sama yang lain?”
   “Ya malulah! Gara-gara Micky ngebakar pantatku tadi, mana ada muka aku buat nyamperin Ji Ah!”
   “Ralat Hyung. Harusnya mana ada pantat dong. Yang dibakar Micky kan pantat Hyung, bukan muka,” sahut Eunhyuk nggak penting.
   Eeteuk memandang sinis Eunhyuk. “Kau sendiri, kenapa nggak gabung sama yang lain?”
   “Sebagai sepupu yang setia kau pasti ikut apa yang Hyung lakukan dong...”
   “Ha-ha,” suara Eeteuk terdengar garing. Eeteuk melihat ke tempat Ji Ah.
   Mwo? Ji, Ji Ah melihat ke sini? Eeteuk mengucek-ucek matanya. Yup, benar. Ji Ah melihat ke arahnya dan... tersenyum! Eeteuk langsung membatu.


“Siwon-a! Suruh mereka lepasin dong... Tega amat sih kau sama teman sendiri,” bujuk Max. Para pengawal Siwon masih mencekal dia dan Yeon Hee.
   Donghae, Minho, dan Sunday yang menyusul mereka langsung pada ciut ngeliat itu.
   “Silly hamnida...” ujar mereka sopan seraya membungkuk hormat ke arah Siwon dan pengawalnya. Lalu mereka langsung berlari dari tempat itu secepat kilat.
   “Pengkhianat!!” ketus Max dan Yeon Hee.
   Di saat seperti itu Key datang menghampiri mereka. “Hyung, mereka kau apakan?” Tanya Key heran melihat keadaan Max dan Yeon Hee.
   “Mereka sudah berlaku tidak sopan terhadap tuan muda Siwon, tuan muda Key,” jawab Pengawal Siwon.
   “Apanya? Aku kan nabrak Siwon nggak sengaja!” protes Yeon Hee.
   “Iya, aku juga nimpanya nggak sengaja. Lagian yang aku timpa kan si Yeon Hee, bukan Siwon!”
   “Iya. Mana berat lagi badanmu!” dumel Yeon Hee.
   Key tertawa mendengar Yeon Hee dan Max bertengkar.
   “Udah, lepasin deh mereka berdua,” perintah Key. Key merupakan sepupu Siwon. Jadi mau nggak mau para pengawal itu juga harus nurut sama dia.
   “Huwah... Gila, sakit banget. Pengawalmu itu harus pinter karate ya semuanya? Cengkramannya sakit banget!” komentar Yeon Hee nggak penting.
   “Ya iyalah, namanya juga pengawal. Masa mereka harus pinter masak? Kau ini aneh-aneh aja!” Max memijit-mijit tangannya.
   “Keyyy... Manaaaa???” Yeon Hee berlari manja ke Key.
   “Ah, males nih kalo adegan lebay.” Max ngacir ke 3-2.
   Siwon menatap Yeon Hee dan Key tanpa ekspresi. Kemudian dia pergi ke kelas diikuti pengawalnya.
   “Mana komiknya?” tagih Yeon Hee langsung.
   Key menyerahkan tumpukan komik ke Yeon Hee. “Nih, One Piece 1-20nya. Lengkap!”
   Yeon Hee nyengir seneng. “Good, good... Ya udah, kamu mau ke mana nih?”
   “Ke kelas lah. Gerombolannya Ji Ah udah selesai juga.”
   “Ya udah yuk. Adikku sayang...” Yeon Hee mengedipkan matanya.
   “Noona jijik ah!” Key jadi geli sendiri. Dia dan Yeon Hee jadi cekikikan nggak jelas.
 

***

Kedatangan Ji Ah membuat hari-hari Eeteuk yang sering sial jadi nggak gitu lagi. Soalnya yang lain sekarang udah mulai waras lagi.
   “Yow, tugas buat tempat wisata di Korea gimana? Kita mau survey di mana?” Tanya BoA ke teman-temannya.
   “O iya ya kita ada tugas. Lupa aku,” Hero tepuk jidat.
   “Makanya, jangan duit terus yang dipikirin!” sindir Dana.
   “Yee... Uang itu penting tauk buat dipikirin!”
   “Kalo gitu bayar dong utangmu,” sela Yesung.   
   “Sst!! Uang aja yang dipikirin. Sekarang mikirin tugas dulu!” Hero pura-pura nggak peduli. Yesung langsung manyun.
   “Jeju aja. Itu kan udah jadi wisata internasional,” usul Sunye.
   “Boleh juga tuh,” terima yang lain.
   “Mm... Kalo mau kalian bisa nanya ke nenekku. Soalnya dia orang asli Jeju,” seru Ji Ah.
   “O... Nenekmu orang Jeju ya? Sama dong kayak nenekku!” Junsu tiba-tiba aja udah ada di samping Ji Ah dengan memasang tamapang (sok) cute.
   “Loh, bukannya nenekmu orang Gwang, Auuww!!” teriak Micky begitu Junsu menginjak kakinya.
   “O ya? Wah... ngebantu banget tuh Ji Ah-ya!”
   “Kalau gitu kalian bisa main ke rumahku.”
   “Apa?! Ke rum, Hmph!!” mulut Junsu langsung dibekap Micky dan Yunho.
   “Kalau hari Sabtu ini bisa nggak?”
 

***

“Kita dateng gerombolan gini udah kayak mau ngerampok rumahnya Ji Ah onnie deh,” komentar Sunmi menghitung jumlah mereka. Eeteuk, Junsu, Micky, Max, Dana, Stephanie, BoA, Yesung, Eunhyuk, Kangin, Yoobin, Sunye, Taemin, Minho, dan dia sendiri.
   “Yee... Yang bikin jadi penuh tuh kau, Max, Eunhyuk, dan kalian!” tunjuk Junsu ke Taemin dan Minho. “Ngapain anak kelas 1 sama 2 ikut? Ini kan tugasnya kelas 3.”
   Sunmi nyengir kuda. “Aku kan fansnya kak Ji Ah. Jadi boleh dong.”
   “Aku idem sama Sunmi,” seru Max langsung.
   “Aku cuma ngikutin Eeteuk Hyung doang,” alas an Eunhyuk.
   “Kalo kita cuma pengen nambah pengetahuan aja,” jawab Taemin sok polos.
   “Ha-ha,” dengus Junsu. Udah jelas banget kalao 2 anak bau kencur ini juga penggemarnya Ji Ah. Nambah-nambahin saingan aja!
   “Siapa yang mau neken bel nih?”
   “Aku, aku!” seru Junsu semangat. Taemin dan Minho langsung menghalanginya.
   “Nih anak 2 ngapain sih?” dumel Junsu.
   “Udah, udah, aku aja.” BoA menekan bel rumah Ji Ah.
   Nggak lama kemudian Ji Ah keluar. Dia memakai kaos putih dan shortpant. Rambutnya yang panjang kali ini dikucir. Simple tapi kelihatan manis banget.
   Semua langsung bengong ngelihat Ji Ah.
   “Onnie kerennn!!!” teriak Sunmi. Dia langsung berlari memeluk Ji Ah. Ji Ah kelihatan bingung.
   Junsu juga mau ikutan. Tapi Eunhyuk dan Yesung keburu nendang dia duluan.
   “Mencegah kelebayan dan kemesuman,” cengir Yesung.
   Mereka masuk dengan grasak-grusuk. Ternyata yang mereka masuki bukan rumah Ji Ah, tetapi toko barang antik milik nenek Ji Ah.
   “Ini punya nenekmu?” Tanya Stephanie.
   “Iya. Aku pindah ke sini juga buat bantu-bantu nenek.”
   “Wah... Ji Ah anak yang berbakti ya,” puji Junsu genit.
   “Iya, nggak kayak kau. Nyesel kali eomma mu punya anak kayak kau,” sahut Micky.
   “Daripada punya anak jail?”
   “Mendingan jail daripada mesum!”
   Yoobin memandang Micky dengan tatapan sinis. “Emangnya kau nggak mesum apa?”
   Micky nyengir. “Ya iya sih... Tapi cowok kan emang wajar kalo rada mesum. Tuh si Eunhyuk, muka aja polos. Soal pervert-pervertan dia King of the king dah!” tunjuk Micky langsung.
   Semua langsung memandang Eunhyuk yang bertampang innocent dan sedang mengikuti Eeteuk dari belakang. Merka beralih ke Micky yang lagi evil smile mode:ON.
   “Fitnah aja kerjaanmu!” tukas Sunye.
   “Yee... Kok pada nggak percaya sih?” kesal Micky. Apalagi setelah Eunhyuk memberi tanda piece seraya nyengir geli dari belakang Eeteuk ke arahnya.
   “Ih, mangkok ini lucu ya?” seru Taemin seraya mengambil mangkok berukir gambar shio-shio. Minho dan Kangin menghampiri dia seraya ikutan mengamati mangkuk tersebut.
   Kangin mengambil mangkuk tersebut dari Taemin. Memperhatikannya seksama sambil melirik ke arah Taemin. “Aku tau ini terlihat bagus di mana,” ujar Kangin.
   “Di mana hyung?” Tanya Minho langsung.
   “Di sini!” Kangin meletakkannya di kepala Taemin. Dan emang bener. Mangkuk tersebut pas&nbsp; menutupi rambut Taemin yang modelnya udah bentuk mangkok.
   “Wah... Keren! Foto dulu dong, foto!” Stephanie yang narsis langsung ngeluarin HPnya dari tas lalu berfoto bareng Taemin. Kangin dan Minho juga ikutan.
   Dana, Sunye, sama Max asyik memperhatikan paying hijau yang tampak kuno yang terletak di sudut ruangan.
   “Kuno banget ya? Ampe lumutan gitu,” komentar Dana.
   “Heh, emang itu kali warnanya.”
   “Ini pasti keluaran tahun 200an,” ujar Max sok tau.
   “Masa sih? Kok motifnya polkadot? Emang zaman dulu motif polkadot udah ada?” Dana tak percaya.
   “Dana-ssi, itu bukan model polkadot. Itu tuh palingan payung hijaunya kejatuhan susu zaman dulu,” sanggah Max ngasal.
   “Tapi kayaknya aku pernah liat deh payung itu.” Sunye tampak berpikir.
   “O maaf, itu payungku.” Ji Ah buru-buru mengambil payung tersebut.
   “Siapa yang berani bilang payung JI Ah kuno?” Junsu datang denga aura siap ngegorok. Dana, Sunye, dan Max langsung ngibrit.
   KLEK! Mereka masuk ke pintu di dekat lorong toko. Begitu masuk tampak seorang nenek tua berambut putih duduk di tengah ruangan tersebut. Dan nggak tau deh emang udah disengajain atau enggak, tiba-tiba aja ada bunyi petir.
   “KYAAA!!!” jerit mereka bareng.
   “Woi, woi, lebay deh semua!” Eeteuk mencoba menenangkan. Padahal dia tadi hampir ngompol gara-gara kaget.
   “Itu nenekku. Eomoni, ini teman-temanku.” Ji Ah menghampiri eomoninya.
   Nenek Ji Ah menatap mereka tajam. Mereka semua langsung keder dengan tatapan itu.
   “Noona, katanya kalian mau wawancara tentang wisata. Kok malah nyeremin gini sih?” Taemin mepet-mepet ke Dana.
   “Anggep aja ini wawancara plus-plus. Plus hebohnya plus horornya,”asal Dana.
   “Kok temen-temennya nggak disuruh masuk? Ngapain kalian bergerombol di depan pintu gitu?” ucap eomoni ramah.
   Mereka langsung menghela napas lega. Fuh... Kirain mau diomelin.
   Kangin yang bereaksi duluan. “Tauk nih, ngapain coba kita ngejogrok di sini? Menuh-menuhin jalan aja!” dengan PD dia masuk duluan. Tapi... Gubrak! Kangin tersandung palang kecil di bawah pintu. Dengan gaya telungkup pula. Officially dia langsung jadi keset plus pijakan sama yang lain.
   “Lumayan, dapet keset empuk,” cengir Max.
   Mereka lalu duduk mengelilingi nenek Ji Ah.
   “Eh, kita kok kayak orang yang mau ngadain ritual gini ya?” celetuk Minho melihat posisi mereka.
   “Tauk nih, ubah posisi, ubah!”
   Mereka akhirnya duduk dengan formasi U (bukan judul lagu Suju).
   “Jadi kalian di sini mau nanya tentang Jeju ya?”
   “Iya mbah, eh salah, iya eomoni...” Eeteuk heboh sendiri.
   “Eomoni bisa kan cerita tentang keindahan Jeju. Kayak gunung Halla gitu, jeruknya, dan kehidupan sosialnya?”
   “Yaelah... Stephanie, kamu belum pernah ke Jeju ya? Yang umum gitu aja ditanyain!”
   “Yee... I’m from America, You know?” Stephanie membela diri tapi rada nggak nyambung.
   “Yunho lagi nyuci baju noh di rumah!” kesal Junsu.
   “Skip! Jangan jadi OOT deh...,”potong Sunye. “Silahkan eomoni menjelaskan...”
   “Ya... kalau soal gunung Halla, eomoni dulu juga sering ke situ. Apalagi pada saat musim semi. Indah sekali di sana. Suasananya...”
   Belum lagi cerita eomoni selesai, terdengar bunyi riuh dari depan pintu rumah Ji Ah.
   “Siapa lagi tuh yang dateng? Kita nggak kedatengan tanu tak diundang lagi kan selain nih 5 tuyul?” ceplos Junsu ke Max dkk.
   Ji Ah dan neneknya saling pandang cemas. BoA sadar akan hal itu.
   “Ji Ah-ya, eomoni, keuncanayo?” tanyanya.
   “Eomoni, aku... aku bukakan pintu ya?”
   “Kamu yakin?”
   “Ya... Harus gimana lagi...” Muka Ji Ah terlihat pucat.
   “Ji Ah-ya, ada apa sih sebenarnya?” kali ini Kangin yang bertanya. “Yang datang itu emangnya siapa? Kok kau sampai pucat begitu.”
   “Itu... Itu penagih hutang.”
   “Mwo?!” teriak mereka bareng.
   “Aigoo... Ternyata selain aku masih ada ya orang yang suka diutangin.” Yesung geleng-geleng kepala prihatin. Eunhyuk, Eeteuk, Sunye, dan BoA kompakan nendang dia ke pojokan ruangan.
   “Kalo gitu, ayo kita hadapi bareng-bareng!” Junsu berdiri dari duduknya dan berkata dengan semangat.
   Semua langsung memberinya tatapan ‘elo-aja-kali-gua-mah-ogah’.
   “Woi... inilah saatnya kita untuk menunjukkan solidaritas kita!” orasi Junsu.
   “Solidaritas atau lagi sok keren nih?” sindir Minho.
   “Heh anak kecil! Bawel aja dari tadi!” ketus Junsu. “Ya sebagai sahabat kita kan harus saling tolong-menolong. Masa kalian tega ngeliat Ji Ah sendirian ngadepin debt collector itu?”
   “Ngeliat Ji Ah nya sih nggak tega, tapi kalau ngeliat oppa yang diapa-apain aku tega kok,” sahut Sunmi.
   “Iya,iya,” yang lain langsung angguk-angguk setuju.
   “Kalian...” tampang Junsu langsung berubah menjadi super mengenaskan. Ujung-ujungnya mereka bareng-bareng ke pintu depan.
   “Siapa yang buka?”
   “Kau aja,” suruh Max ke Minho.
   “Ogah, Micky hyung aja,” tolak Minho.
   “Dongsaeng nggak sopan kau! Boa, kau aja deh.”
   “Mwo? Cowok nggak gentle kau!”
   Karena pada sibuk tolak-tolakan, waktu debt collector itu buka pintu semua langsung teriak super lebay.
   “KYAAA!!!” teriak mereka + debt collectornya.
   “Eh, diem-diem!” tenang debt collector yang paling tinggi. 3 orang pria tersebut langsung manatap 16 anak ABG yang ada di depan mereka.
   “Mana pemilik toko ini?” Tanya sang DC (bukan Dream Concert) yang berkepala botak kayak BoBoHo.
   Ji Ah maju dengan takut. Junsu dan Eeteuk ngintil di belakangnya.
   “Ji Ah, kau tenang aja. Ntar kalo ada apa-apa, Junsu aja yang kita sodorin. Kita semua udah pada ikhlas kok,” bisik Stephanie pelan.
   Junsu menginjak kakinya. “Kau aja yang disodorin sana!” omelnya.
   “Tenggang waktunya sudah habis. Kalian harus membayar hutang kalian sebesar 3 juta Won.
   “Tapi uang kami belum cukup...”
   “Kami sudah memberi waktu sebulan. Apa masih kurang?” tegas pria besar tersebut.
   “Eh, jangan kasar dong sama cewek!” seru Dana.
   “Sst, Dana, kau mau dijadiin mereka sate ngomong kayak gitu?” peringat Eunhyuk.
   “Kami sudah tidak bisa bertoleransi lagi. Terpaksa toko ini kami sita.
   “Jangan!” seru nenek Chae il tiba-tiba. Dia menghampiri mereka dengan tertatih-tatih. “Toko ini mempunyai banyak kenangan bagiku. Aku tidak akan membiarkannya disita begitu saja. Kami minta sedikit waktu lagi. Kami pasti bayar.” Nenek Chae il menggenggam tangan Ji Ah.
   “Sudah tidak bisa. 1 bulan kemarin merupakan tenggang terakhir.”
   “Kami akan bantu bayar!” seru Eeteuk tiba-tiba. “Beri waktu 1 minggu lagi, kami pasti bayar.”
   “1 minggu? Hah!” dengus pria jas hitam tersebut.
   “Beneran. Kita bakal bayar dalam waktu seminggu,” tambah BoA.
   Yang lain juga jadi ikutan bersuara buat ngulur tenggangnya.
   “Baik,baik,” ujar pria itu akhirnya.” Seminggu lagi. Tapi kalau belum dibayar juga, toko ini benar-benar akan kami sita. Permisi.” Para debt collector itu meninggalkan rumah tersebut.
   Mereka semua langsung menghela napas lega.
   “Wah... Eeteuk, nggak nyangka kau akan bilang hal kayak gitu.” Stephanie menepuk pundak Eeteuk.
   “Tauk nih, tumben berani.”
   Eeteuk Cuma nyengir. Dia melihat Ji Ah tersenyum kecil ke arahnya.
   “Trus, sekarang kita mau cari uang gimana? Utangnya masih kurang berapa lagi?” Tanya Kangin.
   “Masih 2 juta lagi.”
   “Mwo?!!” teriak mereka kaget.
   “Trus kita mau ngapain nih?”
   “Gimana kalo kita kerja sambilan,” usul Eeteuk.
   “Kerja sambilan?”

 

-TBC-

 

Gimana???
Give a comment iap!
Comments are love... :)

Profile

PanDa
[info]snowy_tinkle
snowy_tinkle

Latest Month

March 2009
S M T W T F S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031    

Syndicate

RSS Atom
Powered by LiveJournal.com
Designed by Lilia Ahner